Langsung ke konten utama

Postingan

Catatan Mentoring #1

Siang menjelang sore hari. Matahari  masih terasa membakar kulit. Aku memacu roda dua melintasi jalanan. Kenderaan masih sibuk berlalu lalang, debu-debu - polusi - beterbangan. Estimasiku 15 menit perjalanan hingga tiba di lokasi.  Sebagaimana biasa, aku selalu antusias menyambut kegiatan setiap pekan ini. Seingatku ini sudah keempat kalinya dilaksanakan. Saat itu, azan ashar dikumandangkan tidak lama setelah aku tiba. Selepas menunaikan sholat, aku bergegas menyiapkan berbagai hal untuk memaksimalkan kegiatan ini. Selama tiga pertemuan ke belakang, sedikitpun aku tidak lupa menyiapkan materi, bahkan konsumsi. Aku tahu ini memang tidak seberapa, tentu saja banyak mentor yang lebih-lebih dalam mempersiapkannya. Mungkin saja, pada momen ini menjadi washilah aku memetik hikmah,  Aku membuka gawai. Lantas membuka lembar-lembar mushaf, mengingat-ingat halaman terakhir yang kami baca. Meletakkan camilan yang sudah kubeli sebelumnya. Mataku memotret sekitar, menengok ke pintu ma...
Postingan terbaru

Selalu Ada Harapan bagi Mereka yang Terus Berjuang

Permasalahan yang hadir di dalam kehidupan kita adalah sebuah keniscayaan. Tidak ada yang dapat menduga seperti apa bentuk dari rasa sakit atas peliknya permasalahan hidup yang harus kita terima. Namun, roda takdir yang terus berputar memaksa kita untuk melewati itu semua, bagaimanapun kondisi, di manapun dan kapanpun kita berada, kerisauan, kegelisahan, kekhawatiran dan ketakutan itu senantiasa menghampiri. Maka tugas kita adalah menjalani!   “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.” (QS. Al-Baqarah : 155) Pada akhirnya, kita dihadapkan pada suatu pilihan. Apakah memilih menyerah atau terus melangkah? Tentu saja, jika pilihan kita tertambat pada kata “menyerah”, maka sudah tidak ada lagi jalan untuk dilewati, tidak ada lagi anak tangga yang bisa ditapaki! Tidak ada! Namun, berbeda jika niat dan tekad kita memutuskan untuk terus melangkah dan menerjang arah yang dituju, percaya, akan ada jalan yang bisa dil...
Selamat Hari ini, aku mau ngucapin selamat, selamat ya buat teman-teman yang telah bertakdir baik untuk lebih dulu meninggalkan kampus dengan berbangga dan bersenang hati disambut hangat di acara yang telah dinanti-nanti empat tahun lamanya di kampus tercinta, wisuda. Senang, ya tentu senang banget yang mereka. Udah selesai, bikin orang tua bangga, pokoknya keren parah deh. Lah aku? Gimana coba? He-he. Aku, yang kutahu hanyalah bahwa “Aku masih bisa berjuang!” . Tidak ada yang lain dari itu. Hari ini ada yang telah kulupakan, saking senangnya ( sakit juga sih, he-he ) memberi selamat kepada teman-teman wisuda, ada yang kulupakan. Aku lupa untuk mengucapkan selamat kepada diriku sendiri. Ha? Gila apa ya? Masa iya ngucapin selamat ke diri sendiri sih. Hayo, udah setress gegara lihat teman-teman yang udah pada wisuda keknya nih. Ha-ha. Salah sih nggak salah, bener juga sih nggak bener-bener amat. Iya, really I’m forget it . Ada diriku, raga dan jiwaku yang masih   sanggup be...

Problematika Mahasiswa Tingkat Akhir : Skripsi, kapan selesainya?

Tidak terasa ya, kisah seorang mahasiswa sudah tiba juga di penghujung (aamiin). Entah waktu yang terlalu cepat bergulir ataukah kita yang terlena dengan kenyamanan ini. Menjadi suatu problema tersendiri bagi seorang mahasiswa ketika tiba di penghujung studinya atau katakanlah di semester akhir. Ada satu hal besar yang menunggu dan menyambutnya di sana, hal tersebut bak hewan buas yang siap mencekram maksanya.  Ya, tentu semua mengenalnya, dialah si Skripsi , yang mengganggu pulas, yang menimpuk beban pundak, dan berkeliling ke sana dan kemari di isi kepala. Haduh, pokoknya berat (pikir kita). Ia pun seakan-akan seperti pintu gerbang besar, yang kita dipaksa untuk membukanya. Membukanya pun harus dengan tenaga dan harus sepenuh hati. Dalam menghadapi tantangannya, tidak dapat dipungkiri lagi bilamana ada beberapa yang harus patah di tengah jalan, memilih untuk berhenti. Namun, ada pula yang senantiasa bertahan dengan terpaannya yang begitu dahsyat. Revisi sana sini, coret sana core...

Menanti Dalam Doa

Diri ini terus bertanya-tanya Kapan kita bisa bertemu ? Aku tak tau seperti apa rupamu, dari mana dirimu berasal, dan bagaimana kamu mengejar mimpi, kau laksana bayangan yang tak terlihat di kala gelap. Kita adalah dua insan yang diciptakan tapi tak saling bertemu, ini hanyalah masalah waktu yang nantinya akan mengobati rindu yang telah menjadi candu, terkadang hati dan pikiran pun saling beradu. Kita adalah dua insan yang sebenarnya berjuang di arena pertarungan serupa, hanya saja dari dua tempat berbeda. Kau berjuang menjaga mata, aku di sini mencoba sekuat tenaga membentengi hati sampai kau tiba. kita adalah dua raga yang jauh tapi saling manjaga, tidak bertemu tapi saling menunggu, tidak berpapasan tapi saling memantaskan. Kata orang jodoh itu cerminan diri, jika demikian apakah aku pantas menjadi pendamping dirimu nanti ? tatkala diriku masih banyak kurangnya dari pada lebihnya, apakah kamu akan menerima aku apa adanya ? Dan berjuang bersama Tanpa melihat dari harta dan tampannya ...

Lebaran Ketupat, Nasi Bulu dan Kampung Jawa

                                                                                                                                  Oleh : Achmad Husein Hasni Gorontalo merupakan suatu daerah yang kaya akan sejarah, budaya dan warisan para leluhur yang sampai saat ini masih terjaga keindahannya. Secara historis Provinsi Gorontalo adalah daerah yang lebih dahulu merdeka dibandingkan Indonesia yaitu pada tahun 1942, dari hal tersebut Gorontalo membuktikan bahwa nilai perjuangan yang dibangun oleh para leluhur kita yang ada di Gorontalo sangatlah  luar biasa karena mampu menjadi ...

Suara Langit

Kala aku dalam keterpurukan, keputusasaan, seakan mimpi hanya sekadar angan dan khayalan, tak bisa kugapai. Berkali-kali jatuh, kumulai ragu untuk bangkit maju. Apa hanya berakhir semu? Hanya termenung dengan tatapan kosong.. akankah harapan itu akan jauh meninggalkanku? Ketika itu, kucoba memalingkan wajah memandang ke atas langit, yang masih dalam kepulan awan hitam, mendung.. tetiba awan hitam perlahan mulai bergeser, mempersilakan sang langit untuk cerah dengan hamparan birunya. Dan langit kembali cerah membiru.. Lamunku terus menatap langit kala itu… Tatapan itu, masih enggan untuk aku palingkan. Cerah dan birunya, seakan menyapa dan berkata “Hei, bukan saatnya untuk ragu. Lekas bangkit dan terus maju. Kalau jatuh bisa berkali-kali, lantas kenapa bangkit juga tidak bisa berkali-kali? Kau lihat? aku tidaklah secerah ini sebelumnya, yang penuh dengan kepulan awan hitam kelam, tapi akhirnya kembali menyapamu dengan cerah ini.. Begitupun kau… sejatuh-jatuhnya kau, pasti kau akan temuk...