Siang menjelang sore hari. Matahari masih terasa membakar kulit. Aku memacu roda dua melintasi jalanan. Kenderaan masih sibuk berlalu lalang, debu-debu - polusi - beterbangan. Estimasiku 15 menit perjalanan hingga tiba di lokasi.
Sebagaimana biasa, aku selalu antusias menyambut kegiatan setiap pekan ini. Seingatku ini sudah keempat kalinya dilaksanakan. Saat itu, azan ashar dikumandangkan tidak lama setelah aku tiba. Selepas menunaikan sholat, aku bergegas menyiapkan berbagai hal untuk memaksimalkan kegiatan ini. Selama tiga pertemuan ke belakang, sedikitpun aku tidak lupa menyiapkan materi, bahkan konsumsi. Aku tahu ini memang tidak seberapa, tentu saja banyak mentor yang lebih-lebih dalam mempersiapkannya. Mungkin saja, pada momen ini menjadi washilah aku memetik hikmah,
Aku membuka gawai. Lantas membuka lembar-lembar mushaf, mengingat-ingat halaman terakhir yang kami baca. Meletakkan camilan yang sudah kubeli sebelumnya. Mataku memotret sekitar, menengok ke pintu masjid, jam digital terpampang di lantai dua, menunggu kedatangan orang-orang yang dinanti kehadirannya. Waktu berlalu, 10, 20 hingga 30 menit dari waktu yang disepakati. Namun, belum ada tanda-tanda kedatangan mereka.
Takdir Allah, beberapa telah mengonfirmasi bahwa mereka belum bisa hadir secara luring. Beberapa lagi tidak menjawab panggilan telepon. Aku menatap sekantong camilan yang sudah kusiapkan. Lantas akan kuapakan camilan-camilan ini? Ah, biarlah, pikirku, setidaknya sudah mencoba menyiapkan dengan maksimalkan, tugasku hanya sebatas ikhtiar, berdoa, dan tentu saja berserah kepada Allah agar senantiasa diberkahi dan dimudahkan. Aku tahu, ada sedikit keretakan dalam hati yang berwujud kekecewaan. Seakan-akan excited seorang diri, dan itu sedikit menyakitkan. Namun, aku sangat memahami, sedikitpun hal-hal menyedihkan itu datang tidak lain ada pelajaran terselip di dalamnya.
Aku belum mengusaikan diri. Banyak jalan-jalan yang bisa ditempuh. Ketika Allah hadirkan satu ujian, aku yakin Allah juga telah menyiapkan jalan keluarnya, bahkan dengan banyak pintu solusi. Aku menggerakkan jemari, lalu membuka platform online meeting. Berhubung di undangan sebelumnya aku sudah menyematkan link meet untuk rekan-rekan yang masih berada di luar kota. Kulihat sudah ada satu, menyusul dua hingga tiga orang bergabung. Aku memandu kegiatan ini sebagaimana mestinya, yang berbeda hanyalah lokasi, persoalan substansi dan esensi berusaha dipertahankan. Aku melapangkan hati, mendengar apapun yang mereka diskusikan. Setidaknya, aku memahami bahwa mereka telah berupaya sekecil apapun itu bentuknya. Pada akhirnya, ini bukan tentang meraih keberhasilan, tetapi tentang bagaimana aku bisa terus bertahan, atas segala getirnya, pahit dan pedihnya, menjadikan semua itu menjadi pelajaran terbaik yang akan menguatkan langkah-langkah ke depan.
Tidak ada perjuangan yang sia-sia. Satu upaya akan membukakan setiap jengkal menuju keberhasilan, selayaknya tetesan air hujan yang kecil dari waktu ke waktu mampu mengikis kerasnya batu.
Di depanku, ternyata ada kelompok yang sama sedang berdiskusi dalam agenda mentoring. Aku meraih kantong camilan itu dan membagikan kepada rekan-rekan tersebut. Belum lagi, seusai kegiatan, aku bertemu dengan rekan-rekan sekomunitas, tanpa pikir panjang, aku juga membagikan camilan-camilan itu kepada mereka. Ah, MasyaAllah. Begitu indahnya Allah menghibur hatiku setelah dilanda sedikit kekecewaan. Allah Maha Baik dan Maha Mengetahui apa yang dialami hamba-Nya. Hari menutup senja dengan kumandang azan maghrib yang menggema. Kalau kata Bang Raim "senja bukan tentang kopi atau lagu indie dan cerita, tetapi hadiah bagi pejalan kaki menjemput maghribnya."
Semua ini tentang hikmah, untuk aku mengambil pelajaran. Syukurlah, Allah menghadirkan peristiwa-peristiwa semacam ini kepadaku. Salah satu hikmahnya, aku bisa menggerakkan jemari untuk menulis kembali setelah beberapa tahun beku dari mencipta frasa.
Komentar
Posting Komentar