Langsung ke konten utama

Lebaran Ketupat, Nasi Bulu dan Kampung Jawa

                                                                     Oleh : Achmad Husein Hasni

Gorontalo merupakan suatu daerah yang kaya akan sejarah, budaya dan warisan para leluhur yang sampai saat ini masih terjaga keindahannya. Secara historis Provinsi Gorontalo adalah daerah yang lebih dahulu merdeka dibandingkan Indonesia yaitu pada tahun 1942, dari hal tersebut Gorontalo membuktikan bahwa nilai perjuangan yang dibangun oleh para leluhur kita yang ada di Gorontalo sangatlah  luar biasa karena mampu menjadi daerah yang berperan sebagai miniatur negara dalam hal pembebasan dari penjajahan Belanda.

Di samping nilai historis yang syarat akan nilai-nilai perjuangan, jika kita kembali menelisik tentang budaya yang ada di daerah Gorontalo, jelas tidak lepas dan tidak jauh dari nilai-nilai religius atau keagamaan terutama nilai-nilai agama islam. Hal tersebut dapat kita buktikan dari berbagai adat dan tradisi masyarakat Gorontalo yang selalu bertepatan dengan hari yang memiliki nilai atau spirit sesuatu di dalam-nya. Misalnya pada bulan ramadhan, untuk memperingati lailatul qadar maka masyarakat Gorontalo  mengadakan suatu tradisi yaitu tumbilotohe atau pada saat maulid nabi yaitu walima dan  lain sebagainya dengan ceremony dan nilai-nilai yang tentu didalamnya memiliki keunikan dan kekhasan yang berbeda-beda. Tidak heran dengan berbagai macam adat dan budaya yang ada itu, Gorontalo memiliki semboyan  adat bersendikan sara, sara bersendikan kitabullah (adat bersendikan/mencerminkan nilai agama, agama bersendikan/mencerminkan Al-Quran). 

Sama halnya dengan budaya dan tradisi masyarakat Gorontalo pada beberapa perayaan hari besar islam. Ternyata di Provinsi Gorontalo ada suatu tradisi yang jarang dimiliki oleh daerah lain dalam hal nilai dan tradisi keislaman khas Indonesia. Salah satu tradisi yang menarik pada masyarakat Gorontalo yaitu adanya perayaan lebaran ketupat. Perayaan dan tradisi ini menarik karena hampir sebagian besar daerah yang ada di Indonesia tidak memiliki perayaan ini sehingga lebaran ketupat menjadi suatu hari yang ditetapkan sebagai suatu tradisi umat islam Gorontalo untuk dirayakan.

Menarik jika kita menelisik kembali terkait histori dari salah satu tradisi masyarakat Gorontalo ini yaitu lebaran ketupat. Pada mulanya lebaran ketupat di Gorontalo pertama kali digelar oleh masyarakat keturunan Jawa-Tondano (Jaton), sejak kedatangan  mereka pada tahun 1909. Mereka transmigran  dari Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara pada saat itu tersebar di Desa Kaliyoso, Roksonegoro, Mulyonegara, dan Yosonegoro di Kabupaten Gorontalo. Orang-orang Jaton itu adalah keturunan Kiai Modjo yang diceritakan sempat diasingkan Belanda ke Minahasa. Sebelum akhirnya, mereka menyebar di Gorontalo dengan kebudayaan lebaran ketupat atau hari raya sunnah. Sebelum merayakan Lebaran Ketupat, masyarakat Jaton terlebih dahulu akan berpuasa sunnah selama enam hari pada bulan syawal diawali pada hari kedua bulan syawal sampai pada hari ke-tujuh bulan syawal dan pada hari kedelapan mereka merayakan lebaran dari puasa sunnah mereka itu dengan membawa makanan ke masjid untuk didoakan dan setelah itu barulah makanan yang telah didoakan tersebut dimakan secara bersama-sama dengan para keluarga dan masyarakat sekitar. ( dikutip dari Banthayo.id ) 

Menarik jika kita menelusuri tradisi dari perayaan lebaran ketupat yang diwarisi oleh masyarakat Jawa Tondano di Kabupaten Gorontalo. Ada beberapa cirri khas di setiap perayaan lebaran ketupat yang ada di Gorontalo. Cirri yang paling menonjol terdapat di sajian makanannya. Hampir disetiap lebaran ketupat pasti masyarakat menyediakan tentunya ketupat karena sudah menjadi icon dari nama lebaran sunnah yang ada di Gorontalo itu. Akan tetapi ada satu  makanan khas yang juga tidak boleh terlewatkan pada saat lebaran ketupat yaitu nasi bulu atau orang gorontalo sering menyebutnya dengan nasi jaha. Hal ini tak ayal menjadi sesuatu yang menarik bagi penulis jika menghadiri setiap perayaan lebaran ketupat terutama di desa-desa, apalagi nasi bulu yang dipadukan dengan sate  sapi dan opor ayam seakan menggiurkan mata dan terkadang bagi orang tua mereka lupa bahwa ada kolesterol jahat yang akan  siap untuk menyerang mereka jika terlalu banyak mengonsumsi sajian atau hidangan makanan tersebut pada saat perayaan lebaran ketupat.   Juga jika kita mengamati terkait dengan epicentrum atau wilayah khusus yang ada di Gorontalo, Kampung Jawa yang tepat berada di Kabupaten Gorontalo jelas menjadi destinasi atau tujuan utama baik bagi masyarakat lokal maupun pengunjung luar daerah yang ingin merasakan semaraknya lebaran ketupat, hal ini tentu tidak lepas dari asal-muasal lebaran ketuapat itu terjadi, sehingga Kampung Jawa menjadi daerah atau wilayah terpadat di Gorontalo pada saat hari kedelapan di bulan syawal.

Terlepas dari segala keunikan dan nilai historis dari lebaran ketupat, tentu dalam perayaan ini ada nilai atau spirit tersirat yang dapat kita ambil sebagai bentuk pembelajaran dalam diri untuk diimplementasikan secara lebih luas dalam kehidupan sehari-hari. Yang pertama yaitu nilai untuk mensyiarkan agama islam. Puasa di bulan syawal memang merupakan ibadah puasa yang hukumnya sunnah bagi yang melaksanakannya. Tetapi kebanyakan orang tidak atau belum mengetahui keutamaan yang didapatkan  dari berpuasa di bulan syawal, untuk itu dengan adanya lebaran ketupat ini diharapkan dapat memperluas syiar-syiar islam beserta nilai-nilai yang ada di dalamnya sehingga bisa menjadi penyemangat dari ibadah spiritual yang kita jalankan. Berikutnya makna yang bisa kita ambil dari lebaran ketupat yaitu adanya nilai-nilai persaudaraan yang tinggi yang terkemas dalam balutan silaturahmi sebagai tujuan utama dari lebaran ketupat itu sendiri, untuk itu dengan adanya perayaan lebaran ketupat ini bisa menjadi ajang untuk saling memaafkaan lagi walau sebelumnya juga sudah saling memaafkan pada hari raya idul fitri dan saling menguatkan lagi pada nilai-nilai ukhuwah (persaudaraan) terutama lebih meningkatkan kesadaran dalam memperkuat persaudaraan sebagai sesama umat islam dan sesama masyarakat Indonesia.

Penulis adalah Mahasiswa Prodi PPKn FIS UNG, Kader LDF/LDK UNG, Aktivis FKMM Gorontalo, Staff Komisi A FSLDK ISIP Indonesia.

Komentar

  1. MasyaAllah...kereenn... Tapi sayang banyak yg hnya merayakan lebarannya tpi kurang pada pelaksanaan puasa syawalnya.

    Eh..ada yg kelupaan min.. dodol nya juga. Sebagai pemanis... Hehe..

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aman karena Iman

Bismillah. Ini adalah buah dari kisah, pengalaman dari penulis dalam sajian obrolan yang sangat bermakna. Silahkan dibaca ya, teman". Aman karena Iman Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 09.30 WITA. Bergegas saya mendorong  motor saya yang ketika itu cedera salah satu ban rodanya. Tak lupa Kakak saya ikut serta menemani. Syukur, jarak bengkel dengan rumah tidak berjauhan, sehingga tak  butuh waktu dan tenaga lebih. Tapi yah, tetap terasa sedikit penat. Bagaimana tidak, saya mendorongnya seorang diri. Si Kakak cuma bantuin bawa roda yang baru mah. Singkat cerita, sepulang dari bengkel saya baru menyadari ternyata dompet saya hilang, jatuh entah di mana. Kakak mengatakan tidak ada sesuatu yang jatuh ketika itu. Saya pun bergegas, lari menuju rumah meninggalkan kakak yang masih dalam perjalanan pulang. Dan Alhamdulillah, saya menemukan dompet saya tergeletak di bawah kursi kerja.  Beriring dengan tibanya kakak saya di rumah, saya pun berkata padanya :...

Sakit? Ayo Segera Bangkit!

Bismillah. Hai, sahabat Millennial Muslim. Siapa sih yang nggak pernah merasakan sakit? Kita semua pasti pernah merasakan ya. Kaum baperan langsung mikir nih  "Apalagi sakit melihat si dia bersama yang lain" . Yah, sakit nggak cuma tentang itu.   Kita masing-masing memiliki harapan, impian, capaian yang ingin diwujudkan. Dengan segala usaha, doa yang berpijak pada tekad kita lakukan demi sebuah impian kita. Tapi.. akankah dengan segera impian itu terwujud? yakin tanpa terpaan masalah dan problematika ? Tentu tidak. Sebegitu rinci, sebegitu teliti pun kita merencanakan pasti akan dihampiri oleh hambatan. Karena kita sebagai manusia pasti akan diuji oleh Allah. Kita hanya mampu merencanakan, berusaha mewujudkan. Adapun persoalan terwujud atau tidak, tercapai atau tidak itu bukan lagi kapasitas kita, melainkan kapasitas dari kekuasaan Allah Azza wa Jalla. Kadang, hanya butuh beberapa langkah atau bahkan hanya satu langkah lagi kita meraih impian itu. Tapi nyatany...