Gorontalo
merupakan suatu daerah yang kaya akan sejarah, budaya dan warisan para leluhur
yang sampai saat ini masih terjaga keindahannya. Secara historis Provinsi
Gorontalo adalah daerah yang lebih dahulu merdeka dibandingkan Indonesia yaitu
pada tahun 1942, dari hal tersebut Gorontalo membuktikan bahwa nilai perjuangan
yang dibangun oleh para leluhur kita yang ada di Gorontalo sangatlah luar biasa karena mampu menjadi daerah yang
berperan sebagai miniatur negara dalam hal pembebasan dari penjajahan Belanda.
Di
samping nilai historis yang syarat akan nilai-nilai perjuangan, jika kita
kembali menelisik tentang budaya yang ada di daerah Gorontalo, jelas tidak
lepas dan tidak jauh dari nilai-nilai religius atau keagamaan terutama
nilai-nilai agama islam. Hal tersebut dapat kita buktikan dari berbagai adat
dan tradisi masyarakat Gorontalo yang selalu bertepatan dengan hari yang
memiliki nilai atau spirit sesuatu di dalam-nya. Misalnya pada bulan ramadhan,
untuk memperingati lailatul qadar maka masyarakat Gorontalo mengadakan suatu tradisi yaitu tumbilotohe
atau pada saat maulid nabi yaitu walima dan
lain sebagainya dengan ceremony dan nilai-nilai yang tentu didalamnya
memiliki keunikan dan kekhasan yang berbeda-beda. Tidak heran dengan berbagai
macam adat dan budaya yang ada itu, Gorontalo memiliki semboyan adat
bersendikan sara, sara bersendikan kitabullah (adat
bersendikan/mencerminkan nilai agama, agama bersendikan/mencerminkan
Al-Quran).
Sama
halnya dengan budaya dan tradisi masyarakat Gorontalo pada beberapa perayaan
hari besar islam. Ternyata di Provinsi Gorontalo ada suatu tradisi yang jarang
dimiliki oleh daerah lain dalam hal nilai dan tradisi keislaman khas Indonesia.
Salah satu tradisi yang menarik pada masyarakat Gorontalo yaitu adanya perayaan
lebaran ketupat. Perayaan dan
tradisi ini menarik karena hampir sebagian besar daerah yang ada di Indonesia
tidak memiliki perayaan ini sehingga lebaran ketupat menjadi suatu hari yang
ditetapkan sebagai suatu tradisi umat islam Gorontalo untuk dirayakan.
Menarik
jika kita menelisik kembali terkait histori dari salah satu tradisi masyarakat
Gorontalo ini yaitu lebaran ketupat. Pada mulanya lebaran ketupat di Gorontalo
pertama kali digelar oleh masyarakat keturunan Jawa-Tondano (Jaton), sejak
kedatangan mereka pada tahun 1909.
Mereka transmigran dari Kabupaten
Minahasa, Sulawesi Utara pada saat itu tersebar di Desa Kaliyoso, Roksonegoro,
Mulyonegara, dan Yosonegoro di Kabupaten Gorontalo. Orang-orang Jaton itu
adalah keturunan Kiai Modjo yang diceritakan sempat diasingkan Belanda ke
Minahasa. Sebelum akhirnya, mereka menyebar di Gorontalo dengan kebudayaan
lebaran ketupat atau hari raya sunnah. Sebelum merayakan Lebaran Ketupat, masyarakat
Jaton terlebih dahulu akan berpuasa sunnah selama enam hari pada bulan syawal
diawali pada hari kedua bulan syawal sampai pada hari ke-tujuh bulan syawal dan
pada hari kedelapan mereka merayakan lebaran dari puasa sunnah mereka itu
dengan membawa makanan ke masjid untuk didoakan dan setelah itu barulah makanan
yang telah didoakan tersebut dimakan secara bersama-sama dengan para keluarga
dan masyarakat sekitar. ( dikutip dari Banthayo.id )
Menarik
jika kita menelusuri tradisi dari perayaan lebaran ketupat yang diwarisi oleh
masyarakat Jawa Tondano di Kabupaten Gorontalo. Ada beberapa cirri khas di
setiap perayaan lebaran ketupat yang ada di Gorontalo. Cirri yang paling
menonjol terdapat di sajian makanannya. Hampir disetiap lebaran ketupat pasti masyarakat
menyediakan tentunya ketupat karena sudah menjadi icon dari nama lebaran sunnah
yang ada di Gorontalo itu. Akan tetapi ada satu
makanan khas yang juga tidak boleh terlewatkan pada saat lebaran ketupat
yaitu nasi bulu atau orang gorontalo sering menyebutnya dengan nasi jaha. Hal ini tak ayal menjadi
sesuatu yang menarik bagi penulis jika menghadiri setiap perayaan lebaran
ketupat terutama di desa-desa, apalagi nasi bulu yang dipadukan dengan
sate sapi dan opor ayam seakan
menggiurkan mata dan terkadang bagi orang tua mereka lupa bahwa ada kolesterol
jahat yang akan siap untuk menyerang
mereka jika terlalu banyak mengonsumsi sajian atau hidangan makanan tersebut
pada saat perayaan lebaran ketupat.
Juga jika kita mengamati terkait dengan epicentrum atau wilayah khusus
yang ada di Gorontalo, Kampung Jawa yang tepat berada di Kabupaten Gorontalo
jelas menjadi destinasi atau tujuan utama baik bagi masyarakat lokal maupun
pengunjung luar daerah yang ingin merasakan semaraknya lebaran ketupat, hal ini
tentu tidak lepas dari asal-muasal lebaran ketuapat itu terjadi, sehingga
Kampung Jawa menjadi daerah atau wilayah terpadat di Gorontalo pada saat hari
kedelapan di bulan syawal.
Terlepas
dari segala keunikan dan nilai historis dari lebaran ketupat, tentu dalam
perayaan ini ada nilai atau spirit tersirat yang dapat kita ambil sebagai
bentuk pembelajaran dalam diri untuk diimplementasikan secara lebih luas dalam
kehidupan sehari-hari. Yang pertama yaitu nilai untuk mensyiarkan agama islam.
Puasa di bulan syawal memang merupakan ibadah puasa yang hukumnya sunnah bagi
yang melaksanakannya. Tetapi kebanyakan orang tidak atau belum mengetahui
keutamaan yang didapatkan dari berpuasa
di bulan syawal, untuk itu dengan adanya lebaran ketupat ini diharapkan dapat
memperluas syiar-syiar islam beserta nilai-nilai yang ada di dalamnya sehingga
bisa menjadi penyemangat dari ibadah spiritual yang kita jalankan. Berikutnya
makna yang bisa kita ambil dari lebaran ketupat yaitu adanya nilai-nilai
persaudaraan yang tinggi yang terkemas dalam balutan silaturahmi sebagai tujuan
utama dari lebaran ketupat itu sendiri, untuk itu dengan adanya perayaan
lebaran ketupat ini bisa menjadi ajang untuk saling memaafkaan lagi walau
sebelumnya juga sudah saling memaafkan pada hari raya idul fitri dan saling
menguatkan lagi pada nilai-nilai ukhuwah (persaudaraan) terutama lebih
meningkatkan kesadaran dalam memperkuat persaudaraan sebagai sesama umat islam
dan sesama masyarakat Indonesia.
Penulis adalah Mahasiswa Prodi PPKn
FIS UNG, Kader LDF/LDK UNG, Aktivis FKMM Gorontalo, Staff Komisi A FSLDK ISIP
Indonesia.

MasyaAllah...kereenn... Tapi sayang banyak yg hnya merayakan lebarannya tpi kurang pada pelaksanaan puasa syawalnya.
BalasHapusEh..ada yg kelupaan min.. dodol nya juga. Sebagai pemanis... Hehe..
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus