Langsung ke konten utama

Selamat

Hari ini, aku mau ngucapin selamat, selamat ya buat teman-teman yang telah bertakdir baik untuk lebih dulu meninggalkan kampus dengan berbangga dan bersenang hati disambut hangat di acara yang telah dinanti-nanti empat tahun lamanya di kampus tercinta, wisuda. Senang, ya tentu senang banget yang mereka. Udah selesai, bikin orang tua bangga, pokoknya keren parah deh.

Lah aku? Gimana coba? He-he. Aku, yang kutahu hanyalah bahwa “Aku masih bisa berjuang!”. Tidak ada yang lain dari itu.

Hari ini ada yang telah kulupakan, saking senangnya (sakit juga sih, he-he) memberi selamat kepada teman-teman wisuda, ada yang kulupakan. Aku lupa untuk mengucapkan selamat kepada diriku sendiri.

Ha? Gila apa ya? Masa iya ngucapin selamat ke diri sendiri sih. Hayo, udah setress gegara lihat teman-teman yang udah pada wisuda keknya nih. Ha-ha. Salah sih nggak salah, bener juga sih nggak bener-bener amat.

Iya, really I’m forget it. Ada diriku, raga dan jiwaku yang masih  sanggup berdiri hingga di titik ini. Sudah berapa banyakkah air mata yang tumpah? Sudah banyak! Sudah berapa kali harus melahap kesedihan? Sudah banyak pula! Sudah sejauh mana kaki ini melangkah? Sudah sangat jauh! Lantas tidak adakah yang aku pikirkan dan renungkan dari semua itu?

Ternyata, barulah kusadar, aku telah melupakan diriku sendiri hanya demi mengusap sakitnya luka dengan kebahagiaan orang lain. Lalu bagaimana dengan kebahagiaan diriku sendiri? Pantaskah untuk dipikirkan?

He-he, tentu saja. Karena di dunia ini, bagaimana pun scenario takdir yang telah tertulis, yang kutahu bahwa aku tetaplah pemeran utama dalam kisah perjalanan hidupku, bukan orang lain. Atas sakit yang kurasakan? Apakah mereka dapat merasakannya pula? Atas sedih yang seringkali kuseduh? Apakah merasakannya pula? Hanya diri ini yang bisa merasakannya, dan hanya diri ini pula yang bisa memperjuangkannya, terus bertahan dari segala bentuk cobaan.

Aku, kuat!

Aku, hebat!

Aku, aku dan aku, masih tetaplah aku.

Maka hari ini, cukuplah sekali saja ucapan selamat itu kuberikan untuk mereka yang telah menggapai kesuksesan terlebih dahulu, tapi ucapan selamat kepada diriku sendiri harus seringkali terucap untuk menopan dirinya tiap kali merasa jatuh.

Selamat kepada diriku sendiri, hingga detik ini, Langkah masih tak pernah putus untuk memperjuangkan mimpi-mimpi.

Selamat kepada diriku sendiri, telah bertahan meski Langkah beberapa kali harus patah

Selamat kepada diriku sendiri, mata masih melihat jelas impian yang ingin digapai, telinga masih mendengar jelas dukungan dari orang-orang terdekat, pun bersedia menutup dari ejeken-ejeken yang menjatuhkan.

“Wih, nilainya tinggi tapi kok telat ya wisuda, belum punya kerja lagi, kasihan ya.

Iya, iya terserah kalian sajalah, mulut memang mulut kalian, tapi ingat, aku juga punya telinga yang bisa yang kututup dari celaan-celaan itu.

Kalau bukan diriku, siapa lagi yang akan melanjutkan jalan juang ini? Lantas siapa lagi? Menitip mimpi pada orang lain? Hm, tidak mungkin! Sesuatu yang kita dapatkan itu baru terasa bilamana digapai dengan usaha sendiri, bukan karena orang lain. Orang lain hanya beberapa persen sebagai pendukung atas impian ini.

Maka, sekali lagi, selamat kepada diriku, masih tetap kuat, masih tetap hebat menapaki jalan-jalan yang menyakitkan.

Selamat, telah memanen kesabaran atas ketertinggalan,

Selamat, telah menuai ikhlas untuk menerima segala ketentuan-Nya.

Finally, nothing else, no anything, tidak ada yang menimpuk beban pikiranku. Bahwa aku bisa dengan porsi dan versiku dan tentu saja dengan apa yang diingakn oleh Tuhanku, Allah Azza wa Jalla.

Jadi begitulah, kata selamat ini telah merangkai kata sejauh ini.

Intinya, I can do it. Nggak ada yang nggak mungkin, semua bisa dengan izin-Nya. Dengan ini, setiap kali kumerasa jatuh, jenuh, sedih, aku selalu mengingat diriku sendiri. Aku nggak mau menambah beban kepada diri sendiri karena sedih, jatuh, patah dan sebagainya. Sudah cukup, Lelah karena berjuang. Aku harus mengapresiasi itu.

Lantas bagaimana denganmu? Semoga saja kita sama ya. Masih sama-sama bertahan dengan Langkah untuk menapaki masa depan yang kita impikan.

Selamat untuk diriku dan dirimu!

Tulisan ini aku tulis ketika insecure telah memuncak dalam jiwa, bergegas aku curahkan semuanya dalam tulisan ini. Alhamdulillah, memang benar bahwa kata adalah doa. Sebuah kata selamat yang terus aku kuatkan akhirnya telah terwujudkan. Rabu, 14 Juli 2021 benar-benar telah kuucapkan kata selamat yang lengkap kisahnya, tepat hari itu aku diwisuda. 

_kirza


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aman karena Iman

Bismillah. Ini adalah buah dari kisah, pengalaman dari penulis dalam sajian obrolan yang sangat bermakna. Silahkan dibaca ya, teman". Aman karena Iman Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 09.30 WITA. Bergegas saya mendorong  motor saya yang ketika itu cedera salah satu ban rodanya. Tak lupa Kakak saya ikut serta menemani. Syukur, jarak bengkel dengan rumah tidak berjauhan, sehingga tak  butuh waktu dan tenaga lebih. Tapi yah, tetap terasa sedikit penat. Bagaimana tidak, saya mendorongnya seorang diri. Si Kakak cuma bantuin bawa roda yang baru mah. Singkat cerita, sepulang dari bengkel saya baru menyadari ternyata dompet saya hilang, jatuh entah di mana. Kakak mengatakan tidak ada sesuatu yang jatuh ketika itu. Saya pun bergegas, lari menuju rumah meninggalkan kakak yang masih dalam perjalanan pulang. Dan Alhamdulillah, saya menemukan dompet saya tergeletak di bawah kursi kerja.  Beriring dengan tibanya kakak saya di rumah, saya pun berkata padanya :...

Lebaran Ketupat, Nasi Bulu dan Kampung Jawa

                                                                                                                                  Oleh : Achmad Husein Hasni Gorontalo merupakan suatu daerah yang kaya akan sejarah, budaya dan warisan para leluhur yang sampai saat ini masih terjaga keindahannya. Secara historis Provinsi Gorontalo adalah daerah yang lebih dahulu merdeka dibandingkan Indonesia yaitu pada tahun 1942, dari hal tersebut Gorontalo membuktikan bahwa nilai perjuangan yang dibangun oleh para leluhur kita yang ada di Gorontalo sangatlah  luar biasa karena mampu menjadi ...

Sakit? Ayo Segera Bangkit!

Bismillah. Hai, sahabat Millennial Muslim. Siapa sih yang nggak pernah merasakan sakit? Kita semua pasti pernah merasakan ya. Kaum baperan langsung mikir nih  "Apalagi sakit melihat si dia bersama yang lain" . Yah, sakit nggak cuma tentang itu.   Kita masing-masing memiliki harapan, impian, capaian yang ingin diwujudkan. Dengan segala usaha, doa yang berpijak pada tekad kita lakukan demi sebuah impian kita. Tapi.. akankah dengan segera impian itu terwujud? yakin tanpa terpaan masalah dan problematika ? Tentu tidak. Sebegitu rinci, sebegitu teliti pun kita merencanakan pasti akan dihampiri oleh hambatan. Karena kita sebagai manusia pasti akan diuji oleh Allah. Kita hanya mampu merencanakan, berusaha mewujudkan. Adapun persoalan terwujud atau tidak, tercapai atau tidak itu bukan lagi kapasitas kita, melainkan kapasitas dari kekuasaan Allah Azza wa Jalla. Kadang, hanya butuh beberapa langkah atau bahkan hanya satu langkah lagi kita meraih impian itu. Tapi nyatany...