Tidak terasa ya, kisah seorang mahasiswa sudah tiba juga di penghujung (aamiin). Entah waktu yang terlalu cepat bergulir ataukah kita yang terlena dengan kenyamanan ini. Menjadi suatu problema tersendiri bagi seorang mahasiswa ketika tiba di penghujung studinya atau katakanlah di semester akhir. Ada satu hal besar yang menunggu dan menyambutnya di sana, hal tersebut bak hewan buas yang siap mencekram maksanya.
Ya, tentu semua mengenalnya, dialah si Skripsi, yang mengganggu pulas, yang menimpuk beban pundak, dan berkeliling ke sana dan kemari di isi kepala. Haduh, pokoknya berat (pikir kita). Ia pun seakan-akan seperti pintu gerbang besar, yang kita dipaksa untuk membukanya. Membukanya pun harus dengan tenaga dan harus sepenuh hati. Dalam menghadapi tantangannya, tidak dapat dipungkiri lagi bilamana ada beberapa yang harus patah di tengah jalan, memilih untuk berhenti. Namun, ada pula yang senantiasa bertahan dengan terpaannya yang begitu dahsyat. Revisi sana sini, coret sana coret sini, bahkan mungkin ada istilah skripsi melayang. He-he...
Dalam hal ini, kita dipersilakan memilih. Kita masih berada di perjalanan, hanya dua pilihan. Apakah melanjutkan ataukah berhenti dan berbalik arah? Kira-kira yang mana yang akan kalian pilih? Hm. Bagi seorang pemenang tentu melanjutkan adalah keharusan, dan berhenti bukanlah pilihan! Sedangkan bagi pecundang, ia memilih berbalik arah, dan menafikan berjuta-juta juang yang dengan mudahnya ia buang, bukankah begitu?
Tentunya berbeda problematika yang dihadapi oleh setiap mahasiswa ketika menghadapi skripsi. Ada yang sering ditolak revisiannya, diganti judul, Salah ini dan itu, pembimbing yang kurang bersahabat, bahkan rasa malas. Namun, ada saja yang lebih indah kisahnya di mana telah menaklukan skripsinya lebih dahulu, mereka seakan-akan superhero yang telah berhasil menumpas kejahatan. Ha-ha... Bagaimana tidak, dianggap sebuah pencapaian cukup besar bilamana telah menyelesaikannya.
Tapi kawan-kawan, tenangkan pikiran, rencanakan dan perlahan selesaikan. Semua butuh proses kawan, tidak ada yang instan. Biarlah mereka yang telah lebih dulu selesai, itulah proses mereka. Kita dengan proses kita sendiri, dengan kisah kita sendiri. Kita tidak salah, kan? Kita masih berjuang, bukan? Jangan menuntut dan memaksa dirimu untuk menyelesaikannya dengan tergesa-gesa. Mereka telah selesai? Dan kamu belum? Itu bukan salahmu! Bukankah sedari dulu kamu berjuang? Yang salah itu ketika tidak melakukan apa-apa dan hanya berdiam diri, tapi menuntut semuanya selesai, dengan mudahnya? Heh, sesuatu yang tidak mungkin.
Dengan ini, kawan, teruslah buat dirimu berproses, sekecil apapun itu. Asal jangan berhenti melangkah saja, semuanya akan selesai pada waktunya. Ingat, seribu langkah tentunya dimulai dari satu langkah. Pacu seluruh kapasitasmu, jangan biarkan membuang waktu yang sia-sia. Namun, jika saatnya butuh istirahat, berhentilah sejenak, sesekali pandanglah senja yang meredup untuk meredupkan ambisimu, ketidaktenanganmu, atau juga menjemput fajar kala Subuh menyingsing harinya untuk menjemput semangatmu kembali. Semua baik-baik saja, kawan.
Sejatinya, skripsi bukan segalanya, kawan. Nikmati hari-harimu bersamanya. Mungkin saja, masih berlama-lama dengan skripsi membuatmu memenuhi kepala dengan santapan bacaan-bacaan yang menambah wawasan, menggali pengalaman. Nikmati dan jalani saja, kawan. Setidaknya jangan berhenti berproses. Karena setelah menyelesaikan skripsi, kita telah membuka pintu lagi untuk tantangan selanjutnya. Apakah kita siap? Maka, sembari menikmati dan menjalani hari-hari bersama skripsi, jadikan sebagai langkah untuk mempersiapkan dirimu untuk menuju ke tantangan selanjutnya.
Utamanya terus berusaha dan tidak lupa berdoa ya, kawan. Allah tahu sampai mana kemampuan kita. Dan Allah pasti akan memberikan cobaan, ujian kepada kita sesuai dengan yang kita mampu.
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (Al-Baqarah : 286).
Tidak ada yang mampu menyelesaikan semua masalah, cobaan dan ujian yang kita hadapi, melainkan diri kita sendiri. Karena yang tahu kapasitas, kemampuan kita hanyalah diri kita sendiri. Hanya kita yang mampu menyelesaikan sekelumit masalah yang begitu pelik. Bukan orang lain!"Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (Ar-Rad : 11).
Terakhir, setelah semua usaha telah dikerahkan, tidak lupa untuk menyerahkan (tawakkal) semuanya hanya kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Jangan menitip harap kepada manusia, melainkan kepada Sang Pencipta. Mintalah, mohonlah agar dimudahkan semua urusan kita. Manusia boleh saja sering membuat kita kecewa, tapi Allah tidak akan membuat kita kecewa, sedikitpun itu. Keajaiban dari-Nya, jalan keluar yang sebelumnya tidak disangka-sangka, pasti akan membuat kita takjub dengan Kekuasaan-Nya.
"Tuhan kalian (wahai para hamba) telah berfirman, “Berdoalah hanya kepadaKu semata dan khususkanlah ibadah hanya bagiKu, niscaya Aku menjawab untuk kalian." (Al-Mukmin : 60).
Tetap semangat, kawan. InsyaAllah kita bisa mengusaikan semuanya dengan cara terbaik dari Allah. InsyaAllah tulisan bisa bermanfaat untuk kita semua.
Hadanallahu wa iyyakum.
_kirza
Komentar
Posting Komentar