Langsung ke konten utama

Memupuk Rasa Kemanusiaan

       Sudah sekitar dua bulan sejak Covid-19 mengguncangkan bumi pertiwi. Membawa begitu banyak cerita dan duka. Data terkini kasus positif Covid-19 jumlah totalnya ada 8.211 kasus Covid-19 di Tanah Air, sejak kasus ini pertama diumumkan pada 2 Maret 2020. (kompas.com). Di antara ribuan korban positif Covid-19 terdapat ratusan yang meninggal dunia, juga yang sembuh.

     Tidak dapat dipungkiri lagi, kenyataan pahit yang disebabkan oleh wabah Covid-19 dapat dirasakan. Bak air bersih yang dicemari oleh kotoran. Langsung menyebar ke seluruh belahan dunia, tanpa menunggu waktu lama. Tidak terkecuali negeri kita, Indonesia. Banyak, sungguh banyak dampak yang menyertai dengan wabah ini. Dalam tulisan ini, penulis akan membahas main point atau satu poin utama terkait dengan Covid-19. Terlepas dari beberapa hal lainnya. Wabah Covid-19 awal kemunculannya pada 2019 kemarin di kota Wuhan, Cina. Korban positif  pada saat itu melonjak tinggi. Hingga kemudian menyebar ke negera lain. Sampai tiba di Indonesia sendiri, diumumkan oleh Presiden RI, ketika itu awalnya terdapat dua orang di Indonesia positif Corona. Namun, kondisi itu masih dipandang remeh oleh masyarakat Indonesia.

Tapi ada satu hal yang yang mencuri perhatian penulis saat awal kemunculan Covid-19 di Indonesia. Mengejutkan, masyarakat saat itu tiba-tiba membeli bahan makanan yang sangat banyak, karena khawatir. Bahkan ada yang tega menimbun masker untuk maraup keuntungan yang sebesar-sebesarnya. Padahal kita tahu masker yang notabenenya itu adalah barang yang sangat diperlukan terutama oleh tim medis yang menangani kasus ini. Harga masker mengalami eskalasi tinggi karena menjadi barang yang paling dibutuhkan. Ini menyebabkan masyarakat sulit menemukan masker di pusat perdagangan. Jika stok barang langka, maka akan terjadi eskalasi harga yang telah disebutkan sebelumnya. Salahkah ini? Baik, saya tidak ingin menyalahkan, tapi ingin menyadarkan. Ya, saya sedikit menyampingkan sisi Kesehatan dan mencoba menilik sisi kemanusiaan.

Wabah Covid-19 banyak menyambar isu kemanusiaan. Karena ini bukan hanya tentang kesehatan. Dan ini menurut saya perlu diangkat. Bahwa kita dalam kondisi pandemi ini bisa memupuk rasa kemanusiaan kembali. Ini yang perlu kita sadari kembali. Iya, memang wabah virus ini cukup menakutkan, tapi jangan sampai menenggelamkan kita dalam ketakutan dan pada akhirnya mengutamakan keegoisan. Kita perlu berpikir, apakah hanya kita yang berhak hidup? bagaimana dengan yang lain?. Sampai-sampai memborong bahan makanan juga menimbun masker. Maka dalam kondisi seperti ini, bukan tentang kepentingan diri sendiri tapi juga orang lain. Bahwa nyatanya semua orang membutuhkan barang-barang tersebut. Namun sejauh ini, pihak pemerintah telah menegur tegas kepada pelaku yang berbuat seperti itu. 

Kemudian yang berikutnya, para driver ojol (ojek online) juga para pekerja yang diharuskan untuk bekerja di luar rumah, menjadi dilema bagi pemerintah dan sebagian masyarakat yang turut prihatin. Sebagaimana yang kita tahu bahwa pemerintah telah melakukan banyak strategi untuk mencegah penyebaran virus salah satunya dengan WFH (Work From Home) atau bekerja dari rumah. Ini lumrah untuk sebagian masyarakat yang pekerjaannya bisa dilakukan dari rumah. Lantas bagaimana dengan yang tidak?. Tentu mereka akan memaksakan keluar rumah untuk bekerja. Bahkan dengan bekerja di luar rumah pun mereka hanya mendapati jalanan yang sepi, tidak ada penumpung, pembeli dan lain sebagainya. Dan ini akan berdampak terhadap pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-sehari tidak bisa terpenuhi. Pemerintah dalam hal ini telah melakukan pemberian bantuan kepada masyarakat dengan kondisi seperti itu. Tentu saja, dalam sekejap tidak bisa dilakukan menyeluruh oleh pemerintah. Di sinilah peran sebagian lain yang membantu menopang kebutuhan sebagian yang mengalami kesusahan. Dapat kita lihat banyak Lembaga, organisasi, komunitas yang turut bergerak membantu, baik membagikan masker, bahan makanan maupun makanan jadi kepada masyarakat yang membutuhkan.

Kemudian juga terkait dengan karyawan yang kena PHK akibat pandemi covid 19 ini sangat memperihatinkan para pekerja atau karyawan yang bekerja di suatu perusahaan yang mungkin gaji/upah mereka tidak mampu dibayar oleh perusahaan tersebut, Berdasarkan data Kemenaker per 20 April 2020, terdapat 2.084.593 pekerja dari 116.370 perusahaan dirumahkan dan kena PHK akibat terimbas pandemi corona ini. Adapun rinciannya, sektor formal 1.304.777 pekerja dirumahkan dari 43.690 perusahaan. Sementara yang terkena PHK mencapai 241.431 orang dari 41.236 perusahaan (kompas.com). Jika demikian, lantas bagaimana para pekerja/karyawan menafkahi kebutuhan keluarga mereka dan kebutuhan sehari hari mereka jika kena PHK, sedangkan banyak sekali para pekerja yang kehilangan pekerjaannya karena pandemi ini,

Fakta yang sedikit membuat hati terenyuh. Bahwa ada masyarakat yang masih berusaha bertahan dalam kondisi kelaparan. Ya Allah.. melihat kondisi seperti ini masih belum menggerakan niat untuk membantu. Kadang bukan mata kita yang tidak bisa melihat, melainkan hati kita. Beberapa hari lalu, penulis sempat menyimak acara TV yang dibawakan oleh Mba Najwa dengan mewawancarai dua orang masyarakat Indonesia. Dalam acara tersebut masing-masing narsumber menjelaskan kondisi mereka yang memang cukup menyedihkan. Menanti bantuan dari pemerintah masih tak kunjung datang. Dengan nada tersendu-sendu warga yang diwawancarai tadi menjelaskan kondisinya. Bukan hanya dirinya, tapi kebanyakan orang di sekitarnya mengalami hal yang serupa.

Ada lagi yang lebih parah dari itu. Bahkan ada yang sampai meninggal dunia. Ini sungguh menyayat hati. Dilansir di CNN Indonesia Seorang ibu rumah tangga di Serang, Banten, menghembuskan nafas terakhirnya, Senin (20/4) sore sekitar pukul 15.09 WIB, setelah menahan lapar dengan hanya minum air galon isi ulang selama dua hari. Ibu bernama Yulie Nuramelia (43) itu menahan lapar dua hari karena tak ada pemasukan akibat wabah virus corona (Covid-19)”. Maka, hal ini perlu kita perhatikan bersama. Banyak orang di luar sana yang tak bisa kita jangkau dengan mata bagaimana kondisi mereka yang sebenarnya. Sungguh miris, mengiris-iris hati. Penulis pun bukan orang yang banyak berkontribusi dalam hal ini, hanya berusaha mengajak. Kalaupun belum sanggup untuk memberi setidaknya berusaha untuk mengajak.

Dengan kondisi seperti ini, lagi-lagi kita perlu memupuk rasa kemanusiaan. Melihat bukan hanya dengan mata, tapi juga dengan hati. Berapa banyak pasang mata yang mampu melihat tapi tidak bisa tersentuh dan tergerakkan. Wabah ini menyadarkan kita betapa perlu kita saling membantu satu sama lain, bukan semakin terpecah belah. Dalam Islam tegas dan lugas dijelaskan tentang kita harus saling membantu. Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Penulis penuh harap masalah ini bisa segera teratasi. Tidak akan ada lagi yang meninggal karena kelaparan. Di media sosial bertebaran kalimat tentang ini, yaitu “bukan lagi mati karena corona, tapi mati kelaparan”. Awalnya penulis berpikir mungkin ini berlebihan, masa iya sampai meninggal karena kelaparan. Tapi sesungguhnya memang begitu! Penulis merasa bersalah sempat berpikir bahwa kondisi masyarakat sedang baik-baik saja. Faktanya memang seperti tidak sedang baik-baik saja. Banyak rakyat yang menderita. Mungkin kalimat itu sedikit benar, bukan lagi mati karena corona tapi karena kelaparan. Tapi sesungguhnya pemerintah tidak bisa juga membiarkan masyarakat kecil ini untuk memaksa bekerja di luar rumah. Di sisi lain pihak pemerintah menghimbau masyarakat untuk bekerja dari rumah agar tidak terpapar virus, tapi di sisi lain juga ada masyarakat yang tidak bisa berdiam diri di rumah karena harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Simalakama, mungkin itu istilah yang tepat dengan kondisi ini. Keluar rumah untuk bekerja tapi mengkhawatirkan terpapar corona, tapi berdiam diri di rumah juga sebagian masyarakat tidak bisa memenuhi kebutuhannya, walau hanya untuk sepiring makanan. Solusi untuk hal ini, pemerintah diharapkan dapat menopang kebutuhan masyarakat dengan kondisi yang cukup sulit dengan kondisi pandemi. Penyaluran bantuan harus benar-benar selektif kepada orang-orang yang benar membutuhkan. Jangan sampai penyaluran bantuan tidak tepat sasaran. Jangan sampai hanya orang-orang tertentu, yang dalam hal ini karena hubungan keluarga. Pada akhirnya hanya diberikan pada orang yang terbilang mampu. Tentu itu tidak sepantasnya dilakukan. Dalam hal ini tidak bisa juga hanya mengharap kepada pemerintah saja. Ribuan, jutaan jiwa tidak bisa diberikan secara menyeluruh oleh pemerintah. Sehingga perlu dukungan dari masyarakat lain, terkhusus masyarakat yang mampu untuk bisa berpartisipasi memberikan bantuan. Dengan ini bisa membantu menghentikan penyebaran Covid-19.

Penulis sedikit mengutip kalimat oleh Presiden Ghana ketika memutuskan untuk memberlakukan lockdown : “We know how to bring the economy back to life. What we do not know is how to bring people back to life”. Jika diterjemahkan artinya “Kita tahu bagaimana mengembalikan perekonomian kembali dalam kehidupan. Apa yang kita tidak tahu adalah bagaimana mengembalikan manusia dalam kehidupan”. Kalimat ini cukup menepuk ruang pikir penulis. Kita masih bisa memikirkan bagaimana memulai dan membangun kembali usaha, lantas bagaimana dengan kehidupan? Jikalau dinyatakan kita sudah terpapar virus, masihkah berharap berpikir pendapatan, penghasilan? Tentu tidak. Karena hidup lebih berharga. Tetapi seperti yang telah penulis sebutkan sebelumnya, seharusnya ada solusi untuk hal ini. Bukan sekadar berdiam di rumah, tetapi ada yang menopang kebutuhan masyarakat yang kurang mampu. Karena kita sama-sama menginginkan wabah ini segera berakhir. Maka diperlukan bersatu bukan berseteru, tidak bergelut dengan kepentingan masing-masing.

Isu kemanusiaan selanjutnya yaitu terjadi pada korban positif Covid-19. Terjadi diskriminasi kepada korban-korban positif. Ketika awal kemunculan wabah Covid-19 di Wuhan, China banyak menuai hujatan dari masyarakat dunia melalui postingan-postingan media sosial. Mungkin China terlalu jauh, lebih dekat lagi di negeri kita sendiri, Indonesia. Jika di daerah penulis sendiri itu terjadi diskiriminasi terhadap korban Covid-19. Karena awal penyebaran diduga disebabkan oleh salah satu anggota organisasi tertentu. Pastilah ini memecah keriuhan di tengah-tengah masyarakat. Terjadilah tuaian hujatan, cacian kepada orang tersebut. Tidak hanya tertuju pada seorang itu, tapi kepada semua label yang melekat padanya. Ini menimbulkan stereotype yang salah dalam stigma masyarakat. Hanya karena satu orang, semua harus menerima hujatan karena kesalahan satu orang.

Inilah saat di mana kita harus memupuk kembali rasa kemanusiaan. Bukan saatnya untuk menghujat, tapi merekat kembali rasa persaudaraan kita. Ini sesungguhnya membebankan korban Covid-19. Belum sembuh kesehatan, sudah dihujami beribu kesalahan. Seharusnya kita berpikir, bilamana jika itu yang terjadi pada kita, keluarga, sahabat dan kerabat dekat. Pasti akan merasakan yang sama.

Kemudian yang terakhir. Ironi yang terjadi kita saksikan. Kita semua tahu bahwa para dokter, tenaga kesehatan dan tim medis menjadi garis terdepan dalam menangani pasien Covid-19. Kita takkan tahu bagaimana derita yang mereka rasakan. Terpaksa tidak bisa menyapa bertemu keluarga, waktu tidur yang kurang. Begitu besar jasa mereka untuk kita. Lantas kita? Bisa membantu? Sepaling minimal adalah, utamakan rasa kemanusiaan kita. Saya masukkan kutipan berita yang cukup memilukan yang dialami oleh salah satu tenaga kesehatan.

“Jenazah perawat positif corona Nuria Kurniasih ditolak Ketua RT dan warga Sewakul, Kabupaten Semarang pada Kamis (9/4) karena dianggap berpotensi menularkan virus corona”. (www.cnnindonesia.com).

Ditolak? Ada apa dengan mereka? Atau mungkin kita?. Mereka rela menawarkan diri mereka di garda terdepan lalu setelah apa yang terjadi itukah yang pantas mereka dapatkan? Tentu tidak! Lebih dari itu. Untuk hal ini, seharusnya masyarakat dapat diedukasi lebih terkait detail penyebaran virus pada korban yang telah meninggal. Sungguh sangat disayangkan.

Maka, di tengah pandemi ini tidak menjadikan kita manusia yang tidak tahu diri!. Memborong stok bahan makanan, menimbun masker untuk meraup keuntungan, membiarkan orang-orang yang butuh bantuan bahkan sampai penolakan jasad perawat tadi. Ini tantangan yang kita harus lewati bersama. Kita mungkin bermasalah dengan kesehatan ataupun kelaparan, tapi jangan sampai sampai rasa kemanusiaan kita yang bermasalah.

Demikian yang bisa penulis ingin ungkapkan dalam tulisan ini, yang juga merupakan keresahan penulis. InsyaAllah rasa kemanusiaan tidak hilang dari diri kita. InsyaAllah kita semua selalu dalam lindungan Allah Subhanahu wa ta’ala.

Oleh : M. Randy Abdullah; Pratiwi; Zakir G - Mahasiswa Jurusan Akuntansi Universitas Negeri Gorontalo.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aman karena Iman

Bismillah. Ini adalah buah dari kisah, pengalaman dari penulis dalam sajian obrolan yang sangat bermakna. Silahkan dibaca ya, teman". Aman karena Iman Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 09.30 WITA. Bergegas saya mendorong  motor saya yang ketika itu cedera salah satu ban rodanya. Tak lupa Kakak saya ikut serta menemani. Syukur, jarak bengkel dengan rumah tidak berjauhan, sehingga tak  butuh waktu dan tenaga lebih. Tapi yah, tetap terasa sedikit penat. Bagaimana tidak, saya mendorongnya seorang diri. Si Kakak cuma bantuin bawa roda yang baru mah. Singkat cerita, sepulang dari bengkel saya baru menyadari ternyata dompet saya hilang, jatuh entah di mana. Kakak mengatakan tidak ada sesuatu yang jatuh ketika itu. Saya pun bergegas, lari menuju rumah meninggalkan kakak yang masih dalam perjalanan pulang. Dan Alhamdulillah, saya menemukan dompet saya tergeletak di bawah kursi kerja.  Beriring dengan tibanya kakak saya di rumah, saya pun berkata padanya :...

Lebaran Ketupat, Nasi Bulu dan Kampung Jawa

                                                                                                                                  Oleh : Achmad Husein Hasni Gorontalo merupakan suatu daerah yang kaya akan sejarah, budaya dan warisan para leluhur yang sampai saat ini masih terjaga keindahannya. Secara historis Provinsi Gorontalo adalah daerah yang lebih dahulu merdeka dibandingkan Indonesia yaitu pada tahun 1942, dari hal tersebut Gorontalo membuktikan bahwa nilai perjuangan yang dibangun oleh para leluhur kita yang ada di Gorontalo sangatlah  luar biasa karena mampu menjadi ...

Sakit? Ayo Segera Bangkit!

Bismillah. Hai, sahabat Millennial Muslim. Siapa sih yang nggak pernah merasakan sakit? Kita semua pasti pernah merasakan ya. Kaum baperan langsung mikir nih  "Apalagi sakit melihat si dia bersama yang lain" . Yah, sakit nggak cuma tentang itu.   Kita masing-masing memiliki harapan, impian, capaian yang ingin diwujudkan. Dengan segala usaha, doa yang berpijak pada tekad kita lakukan demi sebuah impian kita. Tapi.. akankah dengan segera impian itu terwujud? yakin tanpa terpaan masalah dan problematika ? Tentu tidak. Sebegitu rinci, sebegitu teliti pun kita merencanakan pasti akan dihampiri oleh hambatan. Karena kita sebagai manusia pasti akan diuji oleh Allah. Kita hanya mampu merencanakan, berusaha mewujudkan. Adapun persoalan terwujud atau tidak, tercapai atau tidak itu bukan lagi kapasitas kita, melainkan kapasitas dari kekuasaan Allah Azza wa Jalla. Kadang, hanya butuh beberapa langkah atau bahkan hanya satu langkah lagi kita meraih impian itu. Tapi nyatany...