Seperti
momen-momen biasanya, mendekati bulan Ramadhan merupakan hal yang dinanti oleh
umat Islam. Perasaan sedih ikut terbawa ketika kumenuliskan ini. Semacam ada
sesuatu yang hilang, kawan…
***
Ramadhan
1440 H/2019 M. Ketika itu Aku berada di rumah salah seorang teman, di acara
kecil-kecilan bersama teman-teman alumni SMK. Dan Malam itu adalah awal untuk
sholat Tarawih. Setelah selesai dari acara itu, segera kami bergegas untuk
pulang ke rumah masing-masing. Dengan perasaan senang kami berpamitan dengan
teman yang rumahnya jadi tempat acara itu. Di perjalanan, terlihat orang telah
beramai-ramai menuju masjid. Berhubung sudah mendekati waktu Isya. Semangat
membara.. mungkin itu yang dirasakan setiap orang ketika awal memasuki
Ramadhan. Memang situasinya terasa sangat berbeda dari biasanya. Dengan
segera ku sedikit mempercepat laju motorku.
Qodarullah,
dalam perjalanan kami terhambat oleh sedikit masalah. Motor temanku saat itu
tetiba bermasalah. Tidak mau hidup sama sekali. Oh.. sungguh ini membawa sedikit
perasaan khawatir. Kuingin merasakan sholat tarawih bersama keluarga. Di sisi
lain harus membantu temanku. Beruntung saat itu masih ada beberapa teman lagi
yang masih ikut membantu juga. Pada akhirnya, motor temanku tadi bisa menyala
kembali, tetapi memang beberapa kali kembali bermasalah. Tapi Alhamdulillah,
pada akhirnya aku dan teman-temanku bisa kembali dengan aman.
Mendekati
rumahku, kumelewati masjid.. mataku tertuju pada Bapak, Ibu, Kakak dan Adikku
sedang bersama memasuki masjid. Sontak kuberhenti. Meminjam kunci rumah.
Langsung kuajak Kakakku untuk balik lagi ke rumah. setelah tiba di rumah, ganti
pakaian, bersiap-siap beranjak ke Masjid. Dan Alhamdulillah, masih sempat ke
Masjid. Hmm.. meskipun, dapatnya di bagian luar sih. Tetap kusyukuri.. hampir
saja kumelewatman momen awal. Ramadhan yang penuh kesan ini.
***
Ramadhan
kali ini membawa begitu banyak cerita. Setelah awal yang cukup berkesan, kini
sebuah cerita berkesan juga di pertengahan Ramadhan. Awal ketertarikanku
menulis ada di sini. Mencoba untuk berpartisipasi dalam lomba menulis. Bukan
soal penghargaan yang menjadi tujuan, tapi pengalamanlah yang berharga. Oh iya,
Ramadhan kali ini, aku cukup aktif beraktivitas di luar, mengikuti buka puasa
bersama, program anjangsana, kajian-kajian dan banyak lagi. Malam sebelum
besoknya pengumuman juara kompetisi menulis tadi, kudalam perjalanan pulang
menuju rumah. Eh, tetiba motorku berhenti, bannya tidak bisa berputar lagi. Dan
lebih tidak enaknya, motorku berhenti di tengah jalan. Beruntung kenderaan di
belakang tidak melaju. Kalau melaju, mungkin disundul motor orang dari
belakang. Memang parah.. kucoba dorong, ban belakang tidak bisa berputar lagi.
Ternyata setelah kulihat, rantainya putus. Mana lagi tidak ada bengkel
terdekat. Aku cukup kesulitan saat itu. Ada satpam yang bertugas di sekitar
membantuku untuk menepikan motor. Dan sedikit menyampaikan "di sebelah
sana ada bengkel" (katanya sambil menunjuk arah bengkel). Ya meskipun
tidak kelihatan jelas bengkelanya sebelah mana. Setidaknya kuberterima kasih
kepada bapak satpam itu telah membantu. Aku mencoba menghubungi Kakak.
Syukurlah dia bisa segera ke lokasiku. Sampai tiba Kakakku, mulailah berpikir,
mau dibawa ke bengkel dulu ternyata tidak memungkinkan. Karena waktu telah
menunjukkan jam sepuluh lewat. Terpaksa aku dan kakak mendorong motor hingga
sampai ke rumah. Tiba di rumah, hampir-hampir kutenggelam dengan keringat.
Sungguh, mendorong motor dari lokasi yang cukup jauh itu sangat melelahkan.
Tidurku segera setelah bersih-bersih. Lelap kutertidur ketika itu.. dalam
kondisi kelelahan.
Besoknya,
bagaimana dengan motorku? Kutangguhkan untuk perbaikannya. Saat itu sementara
bersiap-siap untuk waktu Zuhur. Tetiba notifikasi email muncul di
ponselku. Begitu mengagetkan sekaligus membahagiakan sekali isinya. Isinya
adalah sebuah pengumuman lomba menulis yang aku ikuti. Dinyatakan dalam
pengumuman itu, aku sebagai peringkat dua pemenang lomba tersebut.
Alhamdulillah.. padahal ini pertama kalinya aku ikut dalam perlombaan menulis.
MasyaAllah, Allah begitu baik kepadaku. Semalam baru diuji dengan motorku yang
rusak, paginya langsung diberikan kabar gembiranya. Sungguh, di balik masalah
yang kita alami, ada sebuah rahasia terbaik Allah untuk diberikan kepada kita.
Ini saat pertengahan Ramadhan.
***
Pada
hari-hari terakhir.. this more specially. Aku dan kedua temanku
mengikuti program i'tikaf di salah satu masjid. Hari-hari itu sungguh sangat
berharga.. harus berkompromi dengan semua anggota tubuh. Mata tak bisa sayup
menutup, jangan sampai ketinggalan QLnya. Dibangunan jam dua, duduk dulu
sedikit, nyantai dulu..Hehe. Sambil nikmatin seduhan kopi Aceh yang menambah
kekuatan mata yang lebih powerfull. Ya, ayat yang dibacakan oleh Imam
terbilang tidak sedikit. Jadi perlu dorongan kekuatan untuk bertahan. Dengan
apa? Kopi tadi.. hehe. Eh, tapi tetap perlu perkuat niat. Pokoknya hari-hari
terakhir itu sangat berasa keistimewaan Ramadhan. Hingga tiba di penghujungnya.
Sedih tentu iya. Menitip harap dipertemukan dengan Ramadhan selanjutnya.
***
Selanjutnya?
Yang berarti saat ini, saat-saat saya menulis kisah ini. Now, it's so
different. Kita tahu pasti apa yang menjadi bedanya. Melihat kondisi yang
terjadi sekarang.
Bagaimana
dengan Ramadhan yang sebelumnya? Sudahkah kita melakukan yang terbaik?. Lakukan
konsep berlomba dengan kematian. Bahwa Ramadhan ini adalah yang terakhir kali
untuk kita, maka kita akan berusaha melakukan yang terbaik. Setahun lalu kita
masih bisa berkesempatan bebas menjalankan ibadah, sholat di Masjid. Tapi
sekarang? Kesempatan itu masih belum memungkinkan. Baru wabah yang ditimpakan,
bagaimana jika bumi yang sudah digoncangkan? Apa kabar dengan Ramadhan yang
kita nantikan, yang kita berjanji memperbaiki diri?
Maka,
untuk sekarang ini kita masih diberikan kesempatan untuk menjalani Ramadhan dan
mengambil semua keutamaannya. Manfaatkan dan jangan sia-siakan. Karena kita
tidak pernah tahu kita masih akan berjumpa dengan Ramadhan berikutnya.
Sabtu,
18 April 2020.
02.26
WITA.
@kir
Komentar
Posting Komentar