Oleh : Achmad Husein Hasni
Menarik
jika kita berbicara terkait organisasi dakwah maupun organisasi-organiasi
dengan latar belakang keagamaan lainnya yang ada di Indonesia, dimana hampir
semua organisasi dengan asas keislaman memiliki ciri yang sama atau hampir
identik pada sisi ornament dan komposisi susunan struktur organisasinya. Akan
tetapi semua itu sangatlah wajar karena dengan asas yang sama maka akan
melahirkan suatu substansi subjek miniatur organisasi yang hampir sama pula,
tidak terkecuali pada model organisasinya. Salah satu yang paling menarik bagi
penulis yaitu terkait dengan bidang kemuslimahan. Hampir rata-rata disetiap
organisasi yang menganut asas non tunggal pasti memiliki wadah tersendiri bagi
perempuan atau yang mereka sebut muslimah dalam menjalankan misinya sendiri.
Bukan hanya terjadi di organisasi dakwah kampus saja, tetapi hampir diseluruh
organisasi kemahasiswaan external kampus
juga memiliki bidang ini, tentu bidang ini hanya dimiliki oleh organisasi yang
memiliki asas organisasi lebih dari satu dan beridiologikan Islam.
Penulis
akan sedikit menceritakan pengalaman penulis pada saat bergabung di organisasi
keislaman yang ada di kampus yaitu LDK. Sebagai orang yang belum mengenal apa
itu dakwah dan apa itu organisasi dakwah. Penulis mencoba untuk melakukan analisis
secara pribadi terkait strategi dalam melakukan perekrutan. Penulis ingin
sedikit mengkomparasikan tulisan ini dengan tulisan dari Ari Maulana pada
bukunya yang berjudul “Reformasi Dakwah Kampus”. Pada saat beliau masih
menjabat sebagai ketua LDK Salam UI beliau mencoba untuk melakukan penelitian
atau pengumpulan data dengan cara menyebarkan angket kepada mahasiswa perempuan
yang ada di kampusnya. Data yang beliau ambil yaitu berapa banyak mahasiswi UI
muslim yang belum memakai hijab dan belum memakai hijab yang memenuhi kaidah syar’i.
Selain itu beliau juga mencoba untuk mengumpulkan alasan terkait dengan
mahasiswi yang belum memakai hijab atau mahasiswi yang melepas hijabnya serta
konten dakwah apa yang diperlukan oleh wanita khususnya mahasiswi, agar supaya
sesuai dengan kebutuhan para perempuan umumnya dan khususnya para mahasiswi.
Saya mencermati hal ini harus perlu dilakukan oleh LDK khususnya departemen
kemuslimahan untuk bisa menyentuh objek dakwah yang akan dituju. Sementara itu
di satu sisi, jika penulis melihat realitas yang terjadi dilapangan terkait
dengan dakwah kemuslimahan. Sejatinya para muslimah sudah cukup kreatif dalam
mengembangkan dakwahnya kepada mahasiswi. Seperti melaksanakan suatu kegiatan
diskusi yang berkaitan dengan kemuslimahan ditambah departemen kemuslimahan
dalam menarik mahasiswi atau muslimah untuk masuk ke organisasi dakwah kampus,
mereka mengadakan yang namanya pemberian hadiah atau apresiasi seperti
memberikan hijab dan lain sebagainya dengan bungkusan atau kemasan yang cantik
kepada para anggota muslimah yang lain atau bagi mahasiswi yang baru berhijab.
Ada juga penulis melihat setiap tahun departemen kemuslimahan organisasi dakwah
kampus juga sangat aktif dan masif dalam melaksanakan aksi social seperti
memperingati hari memakai jilbab internasional dengan cara mengelilingi kampus
dan jalan raya sebagai bentuk promosi dan aksi social untuk mengajak mahasiswi
dan masyarakat umum khususnya perempuan untuk senantiasa memakai jilbab dengan
kaidah yang syar’i. Akan tetapi hal ini jangan sampai cuman sekedar kegiatan euforia belaka yang bahkan tidak mampu
untuk menyentuh objek dakwah yang ingin dituju jika organisasi ini tidak
memilki data dan pengalaman empiris yang rill terhadap kondisi yang dibutuhkan
perempuan untuk menjadi muslimah yang sejati. Kata Ari Maulana perlu ada
langkah yang sistematis, tersruktur dan massif dalam menjalankan misi yang
telah menjadi program dan grand design kemuslimahan sebagai motor dakwah untuk
perempuan yang ada di kampus masing-masing.
Disini
penulis mencoba untuk menganalisis terkait dengan kemuslimahan. Sempat timbul
pertanyaan di dalam pikiran terkait dengan pemisahan golongan wanita dalam satu
struktur organisasi tertentu dan pengkhususan terkait dengan kemuslimahan.
Penulis mencoba untuk menarik dari salah satu hadis yang berbunyi. Rasulullah
SAW bersabda, “Wanita adalah tiang negara, apabila baik wanita maka baiklah
negara, dan apabila rusak wanita, maka rusaklah negara” (HR. Muslim). Dari
hadis tersebut sangatlah jelas bahwa regenerasi atau superioritas suatu
peradaban ada di tangan wanita, hal ini amatlah jelas karena wanita memiliki
fitrah mengandung dan melahirkan manusia ke muka bumi sebagai pelanjut dan
penerus generasi sebelumnya. Maka sangatlah penting bagi kita semua untuk
menjaga marwah dan kehormatan wanita dalam menjalani perannya sebagai manusia
yang tentu memiliki hak yang sama dengan pria. Untuk itu sangat perlu bagi
departemen kemuslimahan dalam menentukan factor atau karakter muslimah untuk
dapat menjadikan perempuan-perempuan yang ada di luar sana menjadi
wanita-wanita sejati yang kuat dan dapat melahirkan pelanjut estafet perjuangan
untuk menegakkan syariat islam. Ari maulana dalam bukunya yang berjudul
“Reformasi Dakwah Kampus” halaman 95 menuliskan terdapat tiga karakter utama
sebagai muslimah dalam menjalankan perannya yaitu menjadi Mar’atus Sholihat (
perempuan sholihah), Jauzatul Muthiah (istri yang taat), dan Ummul Madrasah
(sekolah peradaban bagi anak-anaknya). Tentu ini harus dikelola secara baik
oleh kemuslimahan, bukan hanya dalam program kerja dakwah saja tapi bagaimana
caranya untuk dapat melaksanakan program dengan menyentuh objek dakwahnya
secara sistematis, terstruktur dan masif.
Kita
tentu tahu bahwa kita telah masuk pada era digitalisasi bahkan sedikit lagi
kita akan meninggalkan itu dan akan menghadapi era robot yang disebut dengan
human society 5.0. Semakin hari permasalahan yang ada pada wanita semakin
kompleks. Kita masih ingat zaman dulu adanya gerakan emansipasi wanita dimana
kedudukan wanita sama halnya dengan kedudukan pria. Anggapan bahwa perempuan
tidak bisa mengerjakan pekerjaan laki-laki di zaman sekarang merupakan sesuatu
yang sudah tidak berlaku lagi karena realitas yang ada membuktikan bahwa
laki-laki dan perempuan mampu untuk mengerjakan apapun segala bentuk pekerjaan
yang ada sehingga tidak ada lagi dikotomi antara pria dan wanita. Tetapi dengan
fitrah perempuan sebagai manusia yang melahirkan generasi penerus untuk bangsa,
maka sudah sepatutnya perempuan utamanya muslimah memiliki derajat yang tinggi
dimuka bumi. Dengan hal itu maka muslimah menjadi sesuatu yang istimewa dan
bagi depatemen kemuslimahan yang berada pada organisasi dakwah harus senantiasa
mengoptimalisasi dan memperbaharui keinginan para objek dakwahnya sehingga
dapat membentuk 3 karakter muslimah yang akan menjadi mesin regenerasi yang
kuat untuk keberlangsungan superioritas peradaban yang cemerlang.
Satu
hal lagi penulis ingin memberikan masukan kepada kemuslimahan dalam upaya
aktualisasi nilai karakter kemuslimahan bagi para mahasiswi. Sejatinya sebagai sesama
perempuan jelas memiliki intuisi yang sama, apalagi ditengah perkembangan zaman
yang ada, permasalahan yang dihadapi oleh perempuan jelas semakin kompleks,
mulai dari diskriminasi, stigma patriarki sampai pada pelecehan seksual. Hal
ini yang harus ditanggulangi oleh para aktivis dakwah kampus di departemen
kemuslimahan untuk senantiasa menjalankan program dakwahnya secara komprehensif
dan dapat mengelola objek dakwahnya secara baik sekaligus mencari
strategi-strategi jitu untuk dapat mengajak mereka pada kebaikan. Salah satu
caranya adalah bekerjasama dengan para komunitas perempuan yang aktif di
masyarakat untuk dapat membela aspirasi kaum perempuan, juga bekerjasama dengan
pihak pemerintahan yang mempunyai tugas khusus dalam hal pemberdayaan wanita,
untuk supaya bisa lebih memperluas strategi dakwahnya sehingga mampu membentuk
karakter muslimah sholihah yang istimewa sebagai mesin regenerasi peradaban.
Terkahir tulisan ini akan penulis tutup dengan hadis yang diriwayatkan oleh
imam muslim dimana menurut penulis islam merupakan agama yang sangat menghargai
wanita bahkan menempatkan wanita berada pada derajat yang mulia. Untuk itu
sebagai sesama manusia patutlah kita menghargai sesama makhluk ciptaan tuhan
terutama menghargai wanita sesuai yang diajarkan oleh Rasulullah.
“Dunia adalah perhiasan, dan
sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah” (HR. Muslim)
Penulis adalah Mahasiswa Prodi PPKn
FIS UNG, Kader LDK UNG, Staff Komisi A Bid. Kaderisasi FSLDK ISIP Indonesia
2020

Keren
BalasHapus