Oleh : Achmad Husein Hasni
Sesungguhnya mahasiswa mempunyai
nalar liar yang sangat tajam untuk mengekspresikan apa saja yang dia sukai,
mahasiswa memang anak muda, anak muda yang mungkin dari sisi berpikir dan
bertingkah laku sudah pada titik kematangan yang prima, tapi masih banyak juga
yang belum bisa menunjukkan itu secara benar bahwa mahasiswa adalah orang
dewasa dari segi berpikir dan bertindak. Hal itu coba untuk penulis amati dalam
setiap proses perjalanan pencarian jati diri di kampus peradaban. Hadir sebagai
anak tongkrongan hedonis yang lebih mengutamakan isi kantong daripada isi otak,
yang berpotensi terjadinya suatu kemunduran diri dalam mencapai kualitas hidup.
Tapi sudah seperti itu keadaannya, seakan penampilan dan isi dompet menjadi
suatu hal yang urgent dalam bersosial, padahal banyak jalan dan cara yang lebih
baik untuk meningkatkan dan menunjukkan kualitas dan kapasitas diri kita demi
terciptanya pribadi yang mampu membuat orang-orang yang dicintai bangga atas
apa yang kamu perbuat. Setiap hari, banyak mahasiswa mengahabiskan waktunya
untuk mengerjakan sesuatu yang mereka suka, sehingganya banyak mahasiswa yang
terbelenggu pada ketidakjelasan hidup yang mereka tuju. Seakan impian dan
cita-cita itu menjadi omong kosong belaka untuk sekedar mengisi kekosongan
waktu mereka dalam menelusuri makna kehidupan yang fana ini. Tidak ada kualitas
pikiran, yang ada hanyalah simbol-simbol loyalitas palsu untuk mengisi
hari-hari yang tidak bermakna itu. Maka perlu ada sesutau yang dapat
menyelamatkan kondisi ini, jangan sampai ketidakjelasan tadi menguasai diri
mereka khususnya mahasiswa sehingga, pikiran dan hati bisa terwarnai oleh
sesuatu yang bermanfaat untuk menciptakan jatidiri yang sesuai dengan harapan
agama,bangsa dan negara pada umumnya.
Anak muda pada dasarnya suka atau
ingin mencari tahu sesuatu hal yang baru, sesuatu yang sama sekali belum pernah
ia rasakan sebelumnya, sesuatu yang dapat menantang diri mereka untuk bisa
mencapai hasrat keingintahuan yang sangat menggebu-gebu, suatu panggilan jiwa
nampaknya menjadi bahasa yang tepat dalam melukiskan catatan yang sederhana
ini. Timbul pertanyaan mendasar, apakah saya sudah mengetahui semua yang ada di
tempat ini? Jawabannya, nampaknya saya harus mengurangi waktu tongkrongan saya
untuk mencari tahu apa lagi yang belum saya dapatkan di tempat ini. Seakan
semua berlalu begitu cepat, ternyata masa lalu saya lebih baik dari masa yang
sekarang, tapi masih ada yang kurang, semua impian saya belumlah terwujud, apa
mungkin ada yang kurang dari diri saya? Jawabannya banyak. Kemampuan dan
pengetahuan memang kunci untuk bersaing, tapi ada satu hal yang menjadi
instrument penting dalam menjani hidup dan kehidupan yaitu adanya penghargaan.
Semuanya begitu semu dan hampa dalam kelompok-kelompok social yang ada dan
bersama kita, tapi nilai kepahamam antara individu dengan individu yang lain
menjadi tinta yang selalu mengalir dalam setiap tulisan hidup sebagai makhluk
social ciptaan tuhan.
Atas dasar perubahan untuk mengarah
ke jalan yang lebih baik, rumah indah ini berdiri dan kokoh walau angin topan
selalu menerjang di pagi dan malam hari. Nuansa kesejukan menjadi cirri pokok
yang selalu menenangkan pada setiap keletihan dan kejenuhan dalam mengemban
mandat suci. Begitulah perjalanan, kelihatan tidak ada yang special bagi orang
yang melihatnya, tapi terasa istimewa ketika mereka mengingat perjalanan baru
yang mereka lalui. Cita-cita untuk menjadi besar tampaknya menjadi impian dalam
hal membawa misi kebaikan untuk perubahan yang lebih baik, tapi kita adalah
kelompok, kita adalah satu kesatuan yang digabungkan dari perbedaan kodrati,
tantangan terbesar manusia adalah hawa nafsu, apakah kita bisa melawan hawa
nafsu itu? Jawabannya hanya diri kita sendiri yang tahu, tapi orientasi harus
senantiasa dibangun, orientasi menjadi pilar terpenting dalam berjalan sesuai
garis dan jalan yang inin dituju. Perbedaan orientasi akan menjadi pelemah
untuk kita bersinergi mengerjakan mandat suci, sebab bangunan itu tidak selamanya
memiliki interior, kusen dan pondasi yang layak, semakin lama ia akan semakin
menua dan rusak dengan sendirinya, maka perlulah rahabilitasi untuk senantiasa
menjamin kualitas rumah yang kita tempati.
Impian kita hanya satu,
generasi-generasi emas akan terus tinggal di rumah tua itu, sejatinya kematian
adalah keniscayaan yang pasti di alami oleh setiap insan yang hidup di muka
bumi, tapi tugas kita adalah menjadikan rumah itu semakin indah, semakin ramai
dan semakin besar untuk tetap menjaga keberlanjutan perjuangan dari mandat suci
yang di titipkan. Harapan juga yaitu generasi yang tercipta lebih tangguh dan
lebih kuat dalam menghadi terjangan topan yang selalu menghantui isi rumah yang
dihuni. Mungkin para pejuang harus memiliki kekuatan sabar yang banyak untuk
bisa menciptakan ini semua, tapi itu penting dalam melanjutkan perjuangan yang
telah dijalani. Nilai-nilai kebajikan harus tetap tersalurkan pada setiap hati
yang belum terjamah oleh hal suci, supaya dia terus menerus melahirkan
pahala-pahala yang hanya bisa dipetik setelah diri terpaku kaku di tanah yang
kotor.
Harapan mereka semua adalah harapan
kita juga yang harus senantiasa kita berikan untuk membesarkan rumah kecil
bekas keringat perjuangan yang jatuh ketika lelah berjalan. Niat, orientasi dan
pola kerja harus senantiasa diperbaharui untuk memberikan inspirasi di masa
sekarang, sehingga rumah ini menjadi sentra kebaikan yang hari demi hari meluas
kebaikannya dan terasa pada setiap sanubari yang ada didekatnya.
Achmad Husein Hasni
Penulis adalah Mahasiswa Prodi PPKn FIS UNG
Ketua Lembaga Dakwah Al-Fatih FIS UNG
Kader LDK SKI UNG
Staff Komisi A Bid. Kaderisasi FSLDK ISIP Indonesia

Komentar
Posting Komentar