Langsung ke konten utama

Inspirasi Masa Kini : (Catatan KE-LDK-AN 2: Bertahan atau Tergantikan)


Oleh : Achmad Husein Hasni

Menarik jika kita melihat pola perubahan yang ada saat ini, dimana tidak sedikit kita menjumpai generasi mileinal berbondong-bondong untuk ikut serta dalam style atau trend hijrah yang ada dimasa kini. Se-akan seperti suatu gerakan yang berirama, trend hijrah dikalangan millennial ini tampaknya mampu menjadi suatu dorongan atmosfer baru di tengah masyarakat yang bersifat skeptis terhadap perkembangan human society 5.0 seperti yang akan kita hadapi bersama. Hal ini tentu menjadi suatu pembahasan menarik, apalagi jika kita memperhatikan secara seksama terkait disparitas social yang ada di kalangan generasi milenial. Kebanyakan mereka sebenarnya menginginkan suasana pergaulan yang baik untuk diri mereka, akan tetapi hal ini menjadi sesuatu yang tidak biasa untuk mereka ketika bercengkrama dengan kelompok agamais. Sehingganya perlu ada kesadaran tingkat tinggi dalam menyatukan keinginan dan menghilangan kebiasaan yang kurang baik untuk membawa mereka ke jalan yang benar.

Sebelumnya penulis ingin mengupas terkait dengan makna esensi dan definisi sederhana dari hijrah. Secara makna, kata hijrah merupakan lawan kata dari al-washal (sampai/tersambung). Kata hijrah merupakan bahasa arab yang asal katanya adalah hajarahu-yahjuruhu-hijran-hijranan. Bentuk isim dari kata ini adalah al-hijrah. Dalam buku Hijrah dalam Pandangan Al-Quran karya Ahzami Saimun Jazuli disebutkan bahwa makna hijrah secara syar’i ialah memiliki ragam aspek yang cukup luas jika ditinjau dari berbagai definisi. Para ulama umumnya memiliki pendapat yang berbeda mengenai makna hijrah ini. Di sini saya ingin megemukakan dua definisi saja terkait dengan pemaknaan hijrah. Yang pertama, hijrah diartikan sebagai perpindahan dari negeri kaum kafir atau kondisi peperangan (daarul kufri wal-harbi) ke negeri muslim (daarul islam). Pendapat ini dikemukakan oleh Ibnu Arabi, Ibnu Hajar al-Aswalani dan Ibnu Taimiyah. Sedangkan pemaknaan hijrah yang ke dua, dan ini masuk pada kondisi yang ada saat ini yaitu hijrah diartikan sebagai perjalanan manusia di muka bumi untuk mencari pelajaran, hikmah dan nasihat dengan tujuan merubah pribadi dari yang sebeumnya buruk menjadi baik di mata Allah SWT. dari makna yang kedua ini sangatlah jelas bahwa dengan disparitas social yang terjadi yaitu ketidaknyamanan dalam bersosial dan hal-hal lain, menyebabkan kebanyakan dari generasi milenial ingin merubah kondisi social kehidupannya menjadi lebih baik.
Hal ini bagi organisasi yang bergerak di bidang kerohanian islam atau dakwah khususnya yang ada di kampus mencoba untuk memberikan wadah dan fasilitas bagi generasi milenial tadi untuk mendapatkan pelajaran, hikmah dan nasihat sebagaimana yang telah penulis kemukakan di atas. Untuk itu perlu ada sinkronisasi antara visi, strategi dan personalia untuk mempertahankan anak-anak muda tersebut dalam mengimplementasikan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.

Sekiranya watak yang harus dimiliki oleh para anggota organisasi keagamaan yang ada di kampus harus mencerminkan dan mencirikan nilai-nilai teladan seperti yang ditunjukkan oleh sang pembawa risalah kebenaran yang pertama kali yaitu Rasulullah SAW, sehingga tidak menjadi suatu penegasian sikap dalam mengembangkan nilai-nilai islam kepada orang lain. Al-Quran telah menjelaskan bahwa misi Rasulullah di muka bumi yaitu “Menyebarkan Rahmat Bagi Seluruh Alam”( Qs. Al-Anbiya : 107). Tentu inilah yang harus menjadi landasan bagi orang-orang yang ada pada organisasi itu untuk menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pelanjut tongkat estafet dakwah Rasulullah dalam mengajak orang-orang ke jalan yang baik seperti yang telah disampaikan di atas. 
Jika sebelumnya adalah visi, sekarang penulis mencoba untuk membahas terkait strategi dalam menyebarkan risalah kebaikan. Dalam Al-Quran Surat An-Nahl ayat 125 di terangkan yaitu “Serulah (Manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. Ini merupakan pedoman strategi untuk berdakwah yang menjadi tuntunan para kader dakwah dimanapun mereka berada. Serta terkait masalah hidayah, manusia sendiri tidak mampu memberikan hidayah kepada manusia yang lain, yang dapat memberikan itu hanyalah Allah SWT. kita manusia hanya dapat mengerjakan amal kebajikan sebagai bentuk penghambaan kita kepada Allah SWT.
Yang terakhir adalah personalia. Ini yang menjadi bahasan menarik pada tulisan kali ini. Sebagai seorang aktifis dakwah, pada umumnya ada 3 kriteria yang harus ada pada diri seorang kader dalam menjalankan misi dakwah. Yaitu adalah Ruhiah, ini penting dan ini yang menjadi nilai fundamental dalam menyebarkan risalah kebenaran dari Allah SWT. bagaimana mungkin seseorang yang menyeru pada suatu perkara kebajikan tapi dia sendiri tidak mengerjakan apa yang telah dia serukan itu. Yang ke-dua adalah Fikriyah. Kualitas pemikiran yang tinggi harus dimiliki oleh setiap kader dakwah agar dalam menjalankan proses penyebaran nilai-nlai islam tadi, dapat terterima dengan baik bagi para objek dakwah yang dia temui. Yang ke-tiga adalah Jasadiyah. Dakwah ini merupakan jalan yang terjal dan berat, oleh karena itu perlulah fisik yang prima untuk mendorong terciptanya suatu generasi-generasi yang kembali kepada jalan kebaikan yang suci.

Sejatinya sebagai suatu organisasi, tentu ada yang di sebut dengan orientasi ke-organisasian. Nilai-nilai persaudaraan sangat penting dalam mengembangkan dakwah ini. Dengan adanya persatuan dan kesamaan akan kesadaran dalam perjuangan inilah yang menjadi pioneer dalam mengembalikan kejayaan islam sebagaimana yang di idam-idamkan. Setiap hari zaman berganti, yang dulunya tradisional sekarang menjadi modern. Hal ini yang senantiasa diperhatikan oleh para mereka yang berjuang dalam mengajak orang lain kepada jalan yang benar. Dengan visi yang jelas, strategi yang terukur dan personalia yang baik, maka kejayaan dan hegemoni dari perjuangan Rasulullah akan kembali kita lihat. Karena sejatinya, setiap hari manusia silih berganti datang dan pergi pada satu tempat. Kadangkala dia merasa nyaman pada tempat itu dan setelah itu terkadang kenyamanan itu sirna karena mungkin dia sudah tidak mendapatkan sesuatu dari apa yang di cari. Maka perlu konsistensi dan kesadaran dalam menjalani peran ini, karena bisa jadi dengan jalan ini keberuntungan itu akan didapatkan, bukan hanya sekedar keberuntungan dalam hal duniawi saja tapi lebih daripada itu keberuntungan yang jauh lebih bermakna dan hakiki akan didapatkan apabila kesetiaan itu masih ada dalam diri seorang pejuang.
Teringat akan kata-kata dari mereka yang masih berada di rumah itu ialah. Ada dan tidaknya kita di tempat ini bukan menjadi penghalang bagi Allah SWT untuk mengembalikan kejayaan islam di muka bumi. Maka dari itu beruntunglah orang yang masih setia pada jalan ini karena Allah masih memakai dia untuk memperoleh kebaikan dari Allah SWT. akan tetapi, merugilah orang yang sudah diparkirkan Allah pada setiap aktifitas kebaikan dan amal shaleh, karena kesempatan untuk memperoleh anugerah dari Allah perlahan-lahan mulai tertutup. Untuk itu timbul-lah pertanyaan dari dalam diri. Apakah kita berada disini untuk sekedar bisa dekat dengan teman yang kita cintai ataukah kita ada disini untuk semata-mata mengharapkan anugerah dari yang Maha Kuasa? Jawabannya hanya Allah dan diri kita sendiri yang tahu. Tugas kita hanya perlu memperbaharui niat dan tetap berpegang teguh pada prinsip kebenaran.

Terakhir ada yang mengatakan bahwa tingkat keimanan tertinggi seorang hamba adalah “cinta”. Maka dari itu pupuklah rasa cinta itu sebesar-besarnya sebagai penghambaan manusia kepada sang pencipta dan jadilah pasukan hebat yang siap mewakafkan dirinya dan apa yang ia punya untuk mencapai keridhaan Allah semata. Maka cinta itu akan terus hadir pada setiap jiwa yang baru kembali kepadanya, dan kita tidak tahu apakah cinta itu akan luntur setelah kita menghadapi semua ini dengan kondisi yang kita punya. Karena yang bertahan akan terus memperbaharui cintanya dan setelah itu akan ada seleksi alamiah bagi cinta-cinta yang tidak sempurna. Sehingga cinta yang baru akan masuk kerumah itu dan tentu akan menjadi pengganti bagi dia yang memilih untuk pergi.
Semoga Bermanfaat. Hadanallahu Wa Iyyakum Ajma’in

Penulis : 
Mahasiswa PPKn FIS UNG 
Kader LDK UNG
Staff Komisi A Bid. Kaderisasi FSLDK ISIP Indonesia

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aman karena Iman

Bismillah. Ini adalah buah dari kisah, pengalaman dari penulis dalam sajian obrolan yang sangat bermakna. Silahkan dibaca ya, teman". Aman karena Iman Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 09.30 WITA. Bergegas saya mendorong  motor saya yang ketika itu cedera salah satu ban rodanya. Tak lupa Kakak saya ikut serta menemani. Syukur, jarak bengkel dengan rumah tidak berjauhan, sehingga tak  butuh waktu dan tenaga lebih. Tapi yah, tetap terasa sedikit penat. Bagaimana tidak, saya mendorongnya seorang diri. Si Kakak cuma bantuin bawa roda yang baru mah. Singkat cerita, sepulang dari bengkel saya baru menyadari ternyata dompet saya hilang, jatuh entah di mana. Kakak mengatakan tidak ada sesuatu yang jatuh ketika itu. Saya pun bergegas, lari menuju rumah meninggalkan kakak yang masih dalam perjalanan pulang. Dan Alhamdulillah, saya menemukan dompet saya tergeletak di bawah kursi kerja.  Beriring dengan tibanya kakak saya di rumah, saya pun berkata padanya :...

Lebaran Ketupat, Nasi Bulu dan Kampung Jawa

                                                                                                                                  Oleh : Achmad Husein Hasni Gorontalo merupakan suatu daerah yang kaya akan sejarah, budaya dan warisan para leluhur yang sampai saat ini masih terjaga keindahannya. Secara historis Provinsi Gorontalo adalah daerah yang lebih dahulu merdeka dibandingkan Indonesia yaitu pada tahun 1942, dari hal tersebut Gorontalo membuktikan bahwa nilai perjuangan yang dibangun oleh para leluhur kita yang ada di Gorontalo sangatlah  luar biasa karena mampu menjadi ...

Sakit? Ayo Segera Bangkit!

Bismillah. Hai, sahabat Millennial Muslim. Siapa sih yang nggak pernah merasakan sakit? Kita semua pasti pernah merasakan ya. Kaum baperan langsung mikir nih  "Apalagi sakit melihat si dia bersama yang lain" . Yah, sakit nggak cuma tentang itu.   Kita masing-masing memiliki harapan, impian, capaian yang ingin diwujudkan. Dengan segala usaha, doa yang berpijak pada tekad kita lakukan demi sebuah impian kita. Tapi.. akankah dengan segera impian itu terwujud? yakin tanpa terpaan masalah dan problematika ? Tentu tidak. Sebegitu rinci, sebegitu teliti pun kita merencanakan pasti akan dihampiri oleh hambatan. Karena kita sebagai manusia pasti akan diuji oleh Allah. Kita hanya mampu merencanakan, berusaha mewujudkan. Adapun persoalan terwujud atau tidak, tercapai atau tidak itu bukan lagi kapasitas kita, melainkan kapasitas dari kekuasaan Allah Azza wa Jalla. Kadang, hanya butuh beberapa langkah atau bahkan hanya satu langkah lagi kita meraih impian itu. Tapi nyatany...