Agency dan Principal, udah pada tahu kan?. Ya, teori ini yang paling banyak digunakan dalam tulisan-tulisan akademisi. Teori ini mengemukakan bagaimana seorang agen dalam hal ini manajer perusahaan yang bekerja untuk kepentingan principal yang diperankan oleh investor. Manajer harus memberikan hasil yang terbaik untuk investor. Begitulah main point dari teori ini. Saya sebagai penulis mengartikan bahwa teori ini juga terkandung di dalamnya sebuah integritas oleh seorang manajer. Dengan ini, manajer tidak boleh melakukan tindakan yang merugikan investor. Dan inilah yang disebut sebagai integritas. Benarkah ini integritas yang sesungguhnya?. Mari kita lihat.. berdasarkan persepsi saya ya. Hehe. Maafkan jika terdapat banyak kekeliruan.
Di sisi lain, Watt & Zimmerman berbeda pandangan terkait dengan teori keagenan. Berbanding terbalik dengan apa yang dinyatakan oleh teori tersebut. Teori oleh Watts & Zimmerman menyatakan dalam pandangan berbeda melalui beberapa teori hipotesis yang mereka rumuskan, salah satunya adalah Bonus Plan Hypotesis. Hipotesis tersebut menyatakan bahwa, seorang manajer selaku agen bekerja untuk dirinya sendiri, untuk mendapatkan keuntungan dirinya sendiri, bukan bekerja untuk kepentingan principal dalam hal ini seorang investor. Ya, jika bisa kita lihat dalam realita bahwa kebanyakan orang yang beranggapan bekerja hanya untuk mendapatkan penghasilan.
Dalam hal ini, penulis mempertemukan dua teori yaitu teori agensi dan hypotesis bonus plan. Di mana yang satu mengatakan bahwa agen bekerja untuk kepentingan principal dan yang satunya lagi menyatakan bahwa agen bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri, dalam hal ini untuk mendapatkan keuntungan/penghasilan.
Lalu? Bagaimanakah seharusnya? Bekerja untuk kepentingan orang lain kah? atau untuk diri sendiri?
Sedikit penulis sampaikan menurut pandangan penulis terkait hal tersebut.
Berbicara teori keagenan, jika penulis melihat melalui perspektif keislaman, teori agensi atau keagenan dapat tercermin dalam hubungan antara seorang hamba dan Allah Azza wa Jalla. Bahwa seorang hamba beribadah hanya untuk Allah semata, bukan kepada yang lain (tidak menyekutukan Allah). Maka diperlukan integritas seorang hamba kepada Allah, menjalankan apa yang diperintahkan dan menjauhi larangan. Dan itulah takwa.
But, pernakah kita berpikir? Apa yang kita lakukan, ibadah-ibadah yang dilaksanakan, pada akhirnya manfaatnya bukankah akan kembali kepada kita? Ya, akan kembali kepada kita. Apa saja amal yang baik yang kita lakukan akan diberikan balasan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, begitupun sebaliknya, yang buruk tetap akan mendapatkan balasan di akhirat kelak. Jelas tersurat dalam QS. Al-Zalzalah : 7-8 yang artinya :
“Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya”.
Jadi, memang jelas bahwa kita diciptakan di dunia ini dengan tujuan beribadah dan menyembah Allah semata dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.. Tapi toh, semua yang diperintahkan kepada kita bukan semata-mata perintah yang merugikan, melainkan untuk kebaikan. Jika dalam teori keagenan yang menyatakan bahwa agen bekerja hanya untuk kepentingan principal dan melalaikan diri menurut penulis kurang lengkap. Apatah lagi dengan teori hypotesis bonus plan yang menyatakan bahwa agen hanya mementingkan diri sendiri untuk mendapatkan keuntungan. Tidak mungkin kan? Masa iya kita seenaknya menyampingkan kepentingan Allah dan hanya mengutamakan kepentingan diri sendiri. Lupakah kita? dengan QS. Ad-Dzariyat : 56 yang artinya :
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.
Maka inilah the special of Islam, Islam is Perfectfull, Islam is Rahmatan lil ‘alamin. Islam menengahi antara kedua teori tersebut. Antara teori agensi dan teori hypotesis bonus plan. Islam menjadi penengah bahwa tentu kita beribadah semata-mata hanya untuk Allah pun untuk kebaikan kita sendiri dan bukan semata-mata untuk kepentingan diri.
Sesungguhnya Islam adalah sebaik-baik sumber pembelajaran yang sempurna dengan pedoman terbaik yaitu Al-Qur’an dan Hadits.
Demikian tulisan saya. Mohon maaf jika terdapat begitu banyak kekeliruan dalam tulisan ini. Sesunggahnya penulis hanya manusia biasa. Apa yang benar dalam tulisan ini, tentulah ini dari Allah. Adapun yang salah, tentu dari diri saya sendiri. Last, Allah must be our priority, not our will. Okay?. Odu’olo.
Hadanallahu wa iyakum.
Selasa, 17 Maret 2020.
Pukul 23.22 WITA.
@kir
Komentar
Posting Komentar