Langsung ke konten utama

Jelajah Gorontalo Bagian I : Bukit Peyapata

Bismillah..

Alhamdulillah, Allah masih memberi kesempatan untuk saya menikmati keindahan alam semesta ciptaan-Nya pun kesempatan hingga tulisan ini selesai. Setelah tumpukan beban semester 5 kemarin yang cukup melelahkan, akhirnya bisa dihempaskan..

Jelajah Gorontalo Bagian I, sebuah cerita perjalanan saya dan kawan-kawan ketika mengunjungi destinasi wisata yang ada di Gorontalo. Tujuan jelajah kali ini adalah destinasi wisata Puncak Bukit Peyapata yang ada di Desa Butu, Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Mungkin banyak yang sudah tahu bahkan sudah sering mengunjungi tempat ini. Tapi mungkin saja ada beberapa teman-teman yang belum mengetahui tempat ini. Bahkan ketika saya memosting gambar di puncak bukit ini, beberapa teman masih ada yang menanyakan lokasi dari bukit tersebut. Maka tak salah saya membuat tulisan ini untuk sedikit gambaran bagaimana cerita perjalanan saya dan kawan-kawan sampai ke puncak Bukit Peyapata. Btw, ini baru kali kedua saya ikut mendaki seperti ini setelah beberapa tahun tidak lagi..

Jum'at, 3 Januari 2020, saya beserta delapan orang teman melakukan perjalanan ke salah satu destinasi wisata Gorontalo. Cuaca yang mendung dan sesekali gerimis tak menjadi penghalang untuk kami beranjak. Titik kumpul keberangkatan di salah satu rumah teman saya, namanya Jonly. Sebelum berangkat, kami menyelesaikan kewajiban untuk sholat Maghrib, mencegah agar tak mager (malas gerak) ketika tiba di lokasi. Setelah menunaikan sholat, begitu baiknya tuan rumah yang masih menyajikan makanan. (makang puji kau Jonly.. haha). Selesai dari itu, segera bersiap-siap untuk berangkat.. tak lupa meluangkan waktu beberapa menit untuk berdo'a agar dilancarkan dalam perjalanan. Kami pun segera beranjak menuju lokasi.. beberapa kali singgah di toko untuk membeli perbekalan. Perjalanan kami tempuh dengan menggunakan motor dengan waktu kurang lebih setengah jam dari rumah Jonly (Dembe II).

Waktu pun berlalu begitu cepat. Tak terasa sudah sampai di lokasi. Lokasi awal adalah titik utama untuk pendakian dan penitipan kendaraan. Karena jalan untuk ke puncak tidak bisa menggunakan motor.. (ya masa iya nanjak pakai motor, nggak dapat sensasinya kan ya..). Di titik utama ini kami masih menyempatkan untuk menunaikan sholat Isya. Selepas itu, segera kami beranjak untuk mulai menanjak hingga ke puncak.. Masih tertarik dengan kelanjutannya? Lanjut ya...

Pendakian kami dimulai tepat pukul 20.16 WITA. Malam kan ya,  bukan pagi.. jadi situasi perjalanannya cukup berbeda. Berbekal lampu senter hp sebagai penerang jalan. Medan yang penuh tanjakan, sesekali mendapati area yang cukup rata. Malam semakin pekat, tak terdengar suara-suara malam bahkan suara jangkrik pun tak terdengar.. Beruntungnya banyak yang bepergian, sehingga dalam perjalanan tak terasa sepi senyap. Dalam perjalanan, teman saya, Amin beberapa kali menemukan kunang-kunang yang menghiasi perjalanan kami. Pepohonan rimbun di sisi kanan dan kiri menjadi penonton setia cerita perjalanan kami. Pun dengan jalanan yang agak becek dan licin karena hujan. Sampai ada teman saya yang terpeleset saking licinnya medan dan membuat pakaian kotor terkena becek. Seketika ada teman yang mengatakan : "jangan takut kotor, ada rin.." hahaha..

Tanjakan, turunan telah kami lewati. Beberapa kali ada teman yang meminta untuk istirahat. Ya, ini tentunya memakan waktu. Bisa lebih cepat kalau tanpa istirahat. Amin, dengan kalimat yang sedikit memanas-manasi teman-teman yang sering istirahat : "masih boleh?" Dan ini sedikit membuat jengkel teman-teman lain. Hahaha.. ya itulah cara Amin untuk menyemangati mereka. Hingga akhirnya tiba di gapura yang bertuliskan "Taman Bogani Nani Wartabone - Obyek Wisata Alam Bukit Peyapata". Ini menandakan semakin dekat dengan puncak bukit. Kami pun memutuskan istirahat beberapa menit dan memanfaatkan untuk dokumentasi. Kemudian bergegas beranjak lagi. Tak ada cerita-cerita aneh dalam perjalanan kami, seperti hantu atau apalah itu tak ada..


Alhamdulillah, tak terasa.. pada akhirnya kami bisa sampai di puncak Bukit Peyapata tepat pukul 21.50 WITA. Saya dan teman-teman laki-laki segera berbagi tugas, ada yang cari kayu bakar yang akhirnya tidak bisa dibakar, basah karena hujan.. ada pula yang bertugas mendirikan tenda. Saya saat itu yang cari kayu bakarnya dan sedikit memanfaatkan untuk foto-foto dulu.. hehe. Cahaya lampu perkotaan, pedesaan terlihat jelas ditambah dengan sinar sang rembulan yang menyendiri menyinari camping malam kami menambah keindahan yang memanjakan mata. Pun dengan bintang-bintang masih terlihat jelas bertaburan di langit. Masih terlihat jelas, karena saat itu masih belum mendung kembali. Teman-teman saya sangat antusias menyiapkan segala keperluan, mulai dari memanaskan air, masak (mie) hingga permainan (uno) sedangkan saya.. sedang asyik menghabiskan kue, nyaman dalam tenda. Haha.. maaf kawan-kawan. Terlihat keceriaan di wajah mereka, setelah dua jam lelah melangkah, menapaki, mendaki tanjakan hingga akhirnya bisa sampai ke puncak. Di tengah antusias mereka, saya memilih segera segera tidur karena kelelahan.

Waktu menunjukkan pukul 00.05, saya terbangun dari tidur dan mereka masih terjaga, asyik dengan uno. Hehe.. Cuaca mulai terasa dingin, tenda yang saya tempati mulai melembab hingga basah.  Membuat saya semakin kedinginan dan harus menambah lapis pakaian, gamis yang saya persiapkan untuk sholat pun terpaksa harus saya gunakan untuk menyelimuti ditambah lagi dengan sarung.. haha, berlapis-lapis ya... Tak lama setelah saya terbangun, hujan segera turun membasahi tenda kami. Membuat mereka yang sedang seru bermain harus bubar dan kembali ke tenda masing-masing. Kami menyediakan tiga buah tenda. Satu tenda untuk perempuan dan dua untuk laki-laki. Saya bersama ketiga orang lainnya dalam satu tenda.. ya sempit sekali. Jadinya kalau gerak harus serentak. Haha.. Oh iya, di Puncak Bukit Peyapata ini tersedia juga toilet. Jadi tak perlu khawatir..

Sekitar pukul tiga, hujan mulai reda. Kembali teman-teman saya beraktivitas di luar tenda dan saya masih setia dalam tenda untuk menunggu waktu Subuh. Waktu Subuh pun tiba, saya dan teman-teman bergegas berwudhu dan kemudian mencari tempat untuk sholat. Spot untuk berfoto kami jadikan untuk sholat. Untuk ke tempat sholat tersebut, harus menaiki tangga. Tempat tersebut sebenarnya mengkhawatirkan, iya.. bagaimana tidak, tempatnya gerak-gerak seperti mau roboh. Bermodalkan keyakinan kami tetap melaksanakan sholat Subuh dan Alhamdulillah bisa selesai juga.

Langit pun mulai cerah ditemani sang mentari yang keberadaannya masih samar-samar. Sekitar kami mulai dikelilingi kabut. MasyaAllah, viewnya sangat bagus. Kami menyempatkan untuk berfoto memanfaatkan moment kabut ini. Setelah berfoto, segera kami mulai berkemas untuk menuruni bukit. Sedikit kami manfaatkan moment di bukit ini untuk membaca kalimat-kalimat suci-Nya. Ya, kami menyempatkan untuk membaca Al-Qur'an. Jarang-jarang saya bisa menikmati keindahan alam semesta ciptaan-Nya dengan berbarengan membacakan kalimat-kalimat suci-Nya. Syukur saya dan teman-teman bisa didatangkan di tempat indah nan damai ini. Tenda mulai kami bongkar, sampah tak lupa untuk dikumpul.. tetiba kami dihampiri seorang kakek. Kakek ini yang biasa menjaga dan menyediakan fasilitas di bukit ini. Beliau datang untuk menagihkan karcis.. setiap orang Rp 5.000 ya.. dan setelah itu kami siap menuruni bukit.

Menuruni bukit tidak butuh waktu yang banyak, dibanding waktu mendaki. Hanya saja untuk turun itu sedikit licin, jadi harus hati-hati. Di perjalanan, kami berjumpa dengan pesepeda gunung yang ramah. Mereka mempersilakan kami untuk minum buah kelapa muda.. Alhamdulillah, bisa sekalian istirahat. Finally, kami tiba di titik awal sewaktu memulai pendakian. Mengambil kenderaan masing-masing dan langsung menuju rumah masing-masing.. berakhirlah trip kami ketika itu. Alhamdulillah..

Bersyukur bisa ikut di trip ini. Terima kasih buat kawan-kawan yang sudah mengajak. Saya niatkan perjalanan ini karena Allah. Bisa menyaksikan keindahan ciptaan-Nya. Perjalanan ini juga sebagai perekat ukhuwah dengan teman-teman... sekian yang bisa saya ceritakan, teman-teman. Mohon maaf jikalau feel retellnya kurang dapat ya.. Terima kasih untuk teman-teman yang sudah sedia membaca.

Oh iya, buat teman-teman yang mau lihat video trip kami bisa dilihat di youtube melalui link di bawah ini:
https://youtu.be/mJrGBQ3s0CU

Author : @kir


















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aman karena Iman

Bismillah. Ini adalah buah dari kisah, pengalaman dari penulis dalam sajian obrolan yang sangat bermakna. Silahkan dibaca ya, teman". Aman karena Iman Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 09.30 WITA. Bergegas saya mendorong  motor saya yang ketika itu cedera salah satu ban rodanya. Tak lupa Kakak saya ikut serta menemani. Syukur, jarak bengkel dengan rumah tidak berjauhan, sehingga tak  butuh waktu dan tenaga lebih. Tapi yah, tetap terasa sedikit penat. Bagaimana tidak, saya mendorongnya seorang diri. Si Kakak cuma bantuin bawa roda yang baru mah. Singkat cerita, sepulang dari bengkel saya baru menyadari ternyata dompet saya hilang, jatuh entah di mana. Kakak mengatakan tidak ada sesuatu yang jatuh ketika itu. Saya pun bergegas, lari menuju rumah meninggalkan kakak yang masih dalam perjalanan pulang. Dan Alhamdulillah, saya menemukan dompet saya tergeletak di bawah kursi kerja.  Beriring dengan tibanya kakak saya di rumah, saya pun berkata padanya :...

Lebaran Ketupat, Nasi Bulu dan Kampung Jawa

                                                                                                                                  Oleh : Achmad Husein Hasni Gorontalo merupakan suatu daerah yang kaya akan sejarah, budaya dan warisan para leluhur yang sampai saat ini masih terjaga keindahannya. Secara historis Provinsi Gorontalo adalah daerah yang lebih dahulu merdeka dibandingkan Indonesia yaitu pada tahun 1942, dari hal tersebut Gorontalo membuktikan bahwa nilai perjuangan yang dibangun oleh para leluhur kita yang ada di Gorontalo sangatlah  luar biasa karena mampu menjadi ...

Sakit? Ayo Segera Bangkit!

Bismillah. Hai, sahabat Millennial Muslim. Siapa sih yang nggak pernah merasakan sakit? Kita semua pasti pernah merasakan ya. Kaum baperan langsung mikir nih  "Apalagi sakit melihat si dia bersama yang lain" . Yah, sakit nggak cuma tentang itu.   Kita masing-masing memiliki harapan, impian, capaian yang ingin diwujudkan. Dengan segala usaha, doa yang berpijak pada tekad kita lakukan demi sebuah impian kita. Tapi.. akankah dengan segera impian itu terwujud? yakin tanpa terpaan masalah dan problematika ? Tentu tidak. Sebegitu rinci, sebegitu teliti pun kita merencanakan pasti akan dihampiri oleh hambatan. Karena kita sebagai manusia pasti akan diuji oleh Allah. Kita hanya mampu merencanakan, berusaha mewujudkan. Adapun persoalan terwujud atau tidak, tercapai atau tidak itu bukan lagi kapasitas kita, melainkan kapasitas dari kekuasaan Allah Azza wa Jalla. Kadang, hanya butuh beberapa langkah atau bahkan hanya satu langkah lagi kita meraih impian itu. Tapi nyatany...