Bismillah..
Mendapat kesempatan untuk bersekolah tentu menjadi keinginan setiap bangsa Indonesia. Tidak, bahkan bukan sebagai keinginan melainkan sudah menjadi keharusan sebagaimana tercantum jelas dalam UUD 45 di alinea keempat : "..mencerdaskan kehidupan bangsa…". Tak bisa dipungkiri lagi bahwa keinginan ini sudah menjadi keharusan yang harus diwujudkan.
Pemerintah Indonesia pastilah sudah berusaha memberikan solusi terkait dengan masalah pendidikan. Seperti yang bisa kita lihat sekarang bagaimana pemerintah Indonesia menerbitkan Kartu Indonesia Pintar (KIP) sebagai salah satu solusi untuk memberikan kesempatan bersekolah bagi warga masyarakat terkhusus bagi masyarakat yang kurang mampu. Tak hanya itu, di tingkat universitas pemerintah juga menyediakan program Bidik Misi untuk mahasiswa yang mungkin sepengetahuan saya hanya untuk mahasiswa yang kurang mampu dan tentunya berprestasi. Dalam lamunan.. pikirku, benarkah untuk yang kurang mampu dan berprestasi?.. Ya.. harapku mungkin saja begitu. Harapku tidak ada hak orang lain yang terlalaikan. Wallahu ta'ala a'lam.
Dari semua solusi di atas, dilakukan oleh pemerintah untuk memberikan kesempatan yang merata untuk semua rakyat Indonesia agar bisa menempuh pendidikan demi terwujudnya bangsa yang cerdas. Terlepas dari semua fasilitas yang diberikan, patutlah kita terus bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla yang terus melimpahkan kita nikmat, terutama nikmat menimba ilmu. Tak lupa ucapan terima kasih juga turut kita ucapkan kepada pemerintah atas upaya-upaya tersebut.
But, really penulis bukanlah bagian dari KIP ataupun Bidik Misi yang telah disediakan oleh pemerintah. Hanya saja penulis tetap respect terhadap pemerintah untuk semua bentuk kepedulian terhadap rakyat. Tidak menjadi bagian KIP atau Bidik Misi atau apapun itu bukan minimnya atau tidak adanya kepedulian dari pemerintah, melainkan kita sendirilah yang harus berlelah-lelah berjuang untuk mendapatkan sebagian fasilitas yang telah disediakan oleh pemerintah. Karena terlepas dari KIP ataupun Bidik Misi, masih banyak hal yang lain yang bisa kita dapatkan seperti perihal beasiswa yang begitu banyak yang mungkin kita bisa meraih kesempatan itu.
Melihat realitas sekarang, penulis menyaksikan begitu banyak anak bangsa yang bisa merasakan fasilitas-fasilitas pendidikan yang telah disediakan oleh pemerintah. Namun sayang, sebagian mereka tidak mempergunakan semua itu dengan baik. Mungkin dengan sedikit berat hati, penulis mengangkat sedikit kasus di lingkungan penulis. Begitu mengejutkan ketika ada seorang yang mendapat katakanlah fasilitas KIP, tapi nyatanya dia tidak lagi mau melanjutkan untuk bersekolah. Sedangkan yang kita tahu bersama bahwa KIP itu disediakan untuk menunjang pendidikan anak bangsa. Bagaimana bisa memfasilitasi seseorang yang tak mau dan tak bersedia untuk bersekolah. Sedang ada yang lebih membutuhkan itu. Ini bukan untuk menjustifikasi dan membicarakan seseorang, hanya saja sedikit untuk kita ketahui bersama. Penulis tak tahu, entah ini suatu bentuk kelalaian kecil dari pemerintah yang tidak bisa membedakan siapa dan apa yang dibutuhkan. Wallahu ta’ala a’lam.
Tak lepas lagi dengan kasus seperti di atas. Dapat kita saksikan bagaimana lintas realitas yang penuh akan formalitas. Dapat dilihat bagaimana keseharian mahasiswa di daerah penulis, yang hanya mengutamakan dan mengandalkan formalitas daripada kreativitas yang pantas, yang bisa menjadikan mereka mahasiswa yang berprestasi. Banyak mahasiswa katakanlah penerima bidik misi yang tidak menggunakan dan memanfaatkan fasilitas itu dengan semestinya. Ada yang menggunakan itu untuk meningkatkan dan lebih mementingkan lifestyle, bahkan mungkin ada yang menggunakan itu untuk sebuah traktiran makan pacar… Hei, it is a joke? Pendidikan tidak sebercanda itu.. Kuliah bagi mereka hanyalah sebagai formalitas yang penuh lelah.. lelah tanpa arah. Lagi-lagi, Penulis di sini tidak ingin menjustifikasi dan menghakimi pihak-pihak tertentu, hanya saja ini sebagai keluhan dari penulis.
Kadang, penulis sedikit iri dengan yang bisa mendapat fasilitas seperti itu. Hanya saja, penulis sadar kita tak perlu iri dengan perkara dunia, kecuali iri terhadap perkara Agama. Menjadikan semua itu sebagai bahan motivasi bahwa diperlukan usaha yang lebih, usaha yang tak biasa untuk dapat sesuatu yang luar biasa.
Berhubung penulis sendiri adalah seorang mahasiswa, maka lebih dominan mengangkat permasalahan-permasalahan di ranah perkuliahan.
Sekilas terlintas dalam ruang pikir, penulis berpikir apa sih sebenarnya esensi dari seorang mahasiswa?. Tanya ini memenuhi isi kepala penulis. Cukupkah ruang kelas sebagai tempat belajar terbaik untuk kita mahasiswa?. Berangkat dari tanya tersebut, penulis kaitkan dengan fenomena yang dilihat dan dirasakan di ranah perkuliahan. Di mana, cukup bagi mereka, sebagian mahasiswa datang ke kampus, belajar, kelar dan akhirnya pulang ke rumah masing-masing. Kalaupun tak langsung ke rumah, sebagian lainnya memilih untuk nongkrong yang tak berfaedah. Pikir mereka cukup di ruang kelas untuk menimba dan menggarap ilmu pengetahuan. Benarkah begitu? Jawabannya adalah tidak seperti itu. Seperti pepatah yang pernah penulis dengar dari seorang kating (kakak tingkat), bahwa “ruang kelas terlalu sempit untuk kita mengenal dunia”. Iya, terlalu sempit. Di luar dari kegiatan perkuliahan, kita bisa memanfaatkan waktu itu untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang lebih bermanfaat dibandingkan kita mendekat pada maksiat.
Sungguh disayangkan sebagian mereka, mahasiswa lebih mementingkan sebuah formalitas hingga lupa untuk mengasah kreativitas. Mereka menjadikan kegiatan perkuliahan ini sebagai rutinitas untuk menikmati fasilitas. Penulis hanya bisa mengatakan bangunlah!. Menjadi mahasiswa bukanlah hal yang sia-sia, tetapi kita harus penuh bangga bisa punya kesempatan menggenggam dunia. Tentu dengan usaha dan doa bukan sekadar khayal semata.
Tentu penulis tidak bisa membebankan segala kesalahan kepada mahasiswa. Mungkin saja ada faktor lain yang menyebabkan mereka kurang bersemangat untuk menggarap manfaat dari kegiatan perkuliahan ini. Oleh karenanya, penulis mengajak teman-teman mahasiwa untuk dapat membuka mata, sadar akan esensi kita, esensi kita menempuh pendidikan, apakah sudah bermanfaat untuk masyarakat..
Problematika pendidikan di ranah perkuliahan tak cukup jika mengulas mahasiswa saja. Bagaimana dengan metode belajar dan pengajarnya?. Ini juga merupakan apa yang penulis lihat dan rasakan di ranah perkuliahan. Ketika mahasiswa datang ke kampus, mengikuti mata kuliah di ruang kelas namun yang dijumpai hanyalah seorang pengajar yang menghabiskan berlembar-lembar buku untuk dibacakan kepada mahasiswa. Dalam satu pertemuan perkuliahan bisa dihabiskan bab demi bab. Bisakah semua itu diserap oleh mahasiswa?. Sepertinya tidak. Lantas apa yang bisa mereka dapatkan dari semua itu?. Belum lagi jika menjumpai pengajar yang melimpahkan begitu banyak tugas. Harap penulis saja, tugas-tugas itu tidak sampai di luar batas dan kapasitas seorang mahasiswa. Ini yang menjadi catatan kecil untuk para pengajar di ranah perkuliahan. Kadang para pengajar terlalu berfokus pada kuantitas sehingga lupa akan kualitas. Kadang semua itu hanya sebagai formalitas, sebagai penggugur kewajiban sehingga lupa akan esensi dari para pengajar untuk memberikan pendidikan. Penulis hanya berharap dari apa yang disampaikan oleh seorang pengajar meski hanya sedikit tapi penuh akan kualitas sebagai booster untuk mengasah kreativitas. Penulis pun tahu, tidak semua pengajar seperti itu. Masih ada juga pengajar yang dengan ikhlasnya mentransfer ilmunya kepada mahasiswa.
Terakhir, Sering-seringlah bersyukur, sering-seringlah kita melihat ke bawah, di mana banyak yang menginginkan untuk dapat meraih kesempatan menempuh pendidikan namun sayang akses mereka terbatas untuk itu. Kita sebagai mahasiswa perlu memanfaatkan semua fasilitas pendidikan di ranah perkuliahan untuk mengasah kreativitas guna menjadi mahasiswa yang berkualitas bukan mahasiswa yang penuh akan formalitas. Tak hanya mahasiswa yang dituntut kreativitasnya, tetapi seorang pengajar dituntut untuk kreatif juga. Karena untuk menyesuaikan dengan begitu banyak mahasiswa didikan dengan karakter yang berbeda-beda diperlukan kreativitas dari seorang pengajar, entah itu melalui metode pembelajaran atau apapun itu. InsyaAllah dengan begitu, akan tercipta kualitas seorang mahasiswa dan pengajar yang baik yang penuh akan kreativitas.
Dengan pendidikan, kita sebagai akademisi yang juga sebagai generasi milenial bisa menggenggam dunia bukan hanya khayal semata tetapi dalam realita, realita yang membawa nama baik bangsa serta membawa kemajuan dan peradaban negara yang lebih baik.
“Mengikis Formalitas untuk Sebuah Kreativitas”
Oleh Penulis : Senin, 23 September 2019 M/23 Muharram 1441 H
Demikian essai yang bisa penulis sajikan, pastilah masih jauh dari kesempurnaan. Penulis memohonkan maaf sebesar-besarnya apabila terdapat banyak salah, khilaf dalam isi atau apapun terkait dengan tulisan ini.
Hadanallahu wa iyyakum. Wallahu ta’ala a’lam.
Mantap...
BalasHapusTerima kasih atas kunjungannya.
Hapus